PEMERIKSAAN
URINE TERHADAP PROTEIN
TUJUAN
1. Untuk menentukan adanya protein dalam urine
2. Untuk menentukan adanya indikasi
kelainan-kelainan pada fungsi renal
PRINSIP
Pemeriksaan berdasarkan pengendapan protein yang
terjadi dalam suasana asam, karena hasil pemeriksaan dinilai dari kekeruhan,
maka urine harus jernih.
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Urine :
Urine atau air seni atau air kencing merupakan
cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal kemudian dikeluarkan dari dalam
tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urine diperlukan untuk membuang
molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga
homeostasis cairan tubuh. Urine disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter
menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.
Urine normal biasanya berwarna kuning, berbau khas
jika didiamkan berbau ammoniak, pH berkisar 4,8 – 7,5 dan biasanya 6 atau 7.
Berat jenis urine 1,002 – 1,035. Volume normal perhari 900 – 1400 ml.
Proses Terbentuknya Urine :
Penyaringan darah pada ginjal lalu terjadilah urine.
Darah masuk ginjal melalui pembuluh nadi ginjal. Ketika berada di dalam
membrane glomenulus, zat-zat yang terdapat dalam darah (air, gula, asam amino
dan urea) merembes keluar dari pembuluh darah kemudian masuk kedalam simpai/kapsul
bowman dan menjadi urine primer. Proses ini disebut filtrasi. Urine primer dari
kapsul bowman mengalir melalui saluran-saluran halus (tubulus kontortokus
proksimal). Di saluran-saluran ini zat-zat yang masih berguna, misalnya gula,
akan diserap kembali oleh darah melalui pembuluh darah yang mengelilingi
saluran tersebut sehingga terbentuk urine sekunder. Proses ini disebut
reabsorpsi.
Urine sekunder yang terbentuk kemudian masuk tubulus
kotortokus distal dan mengalami penambahan zat sisa metabolism maupun zat yang
tidak mampu disimpan dan akhirnya terbentuklah urnine sesungguhnya yang
dialirkan ke kandung kemih melalui ureter. Proses ini disebut augmentasi.
Apabila kandung kemih telah penuh dengan urine, tekanan urine pada dinding
kandung kamih akan menimbulkan rasa ingin buang air kecil atau kencing.
Banyaknya urine yang dikeluarkan dari dalam tubuh
seseorang yang normal sekitar 5 liter setiap hari. Faktor yang mempengaruhi
pengeluaran urine dari dalam tubuh tergantung dari banyaknya ar yang diminum
dan keadaan suhu apabila suhu udara dingin, pembentukan urine meningkat
sedangkan jika suhu panas, pembentukan urine sedikit.
Pada saat minum banyak air, kelebihan air akan
dibuang melalui ginjal. Oleh karena itu jika banyak minum akan banyak
mengeluarkan urine. Warna urine setiap orang berbeda-beda. Warna urine biasanya
dipengaruhi oleh jenis makanan yang dimakan, jenis kegiatan atau dapat pula
disebabkan oleh penyakit. Namun biasanya warna urine normal berkisar dari warna
bening sampai warna kuning pucat.
Komposisi Urine :
• Air ( seperti urea )
• Garam terlarut
• Materi organik
Secara kimiawi kandungan zat dalam urine diantaranya
adalah sampah nitrogen (ureum, kreatinin dan asam urat), asam hipurat zat sisa
pencernaan sayuran dan buah, badanketon zat sisa metabolism lemak, ion-ion
elektrolit (Na, Cl, K, Amonium, sulfat,Ca dan Mg), hormone, zat toksin (obat,
vitamin dan zat kimia asing), zat abnormal (protein, glukosa, sel darah Kristal
kapur dsb)
• PROTEINURIA
Proteinuria yaitu urin manusia yang terdapat protein
yang melebihi nilai normalnya yaitu lebih dari 150 mg/24 jam atau pada
anak-anak lebih dari 140 mg/m2.Dalam keadaan normal, protein didalam urin
sampai sejumlah tertentu masih dianggap fungsional.
Sejumlah protein ditemukan pada pemeriksaan urin rutin,
baik tanpa gejala, ataupun dapat menjadi gejala awal dan mungkin suatu bukti
adanya penyakit ginjal yang serius.Walaupun penyakit ginjal yang penting jarang
tanpa adanya proteinuria, kebanyakan kasus proteinuria biasanya bersifat
sementara, tidak penting atau merupakan penyakit ginjal yang tidak
progresif.Lagipula protein dikeluarkan urin dalam jumlah yang bervariasi
sedikit dan secara langsung bertanggung jawab untuk metabolisme yang
serius.adanya protein di dalam urin sangatlah penting, dan memerlukan
penelitian lebih lanjut untuk menentukan adanya penyebab/penyakit
dasarnya.Adapun proteinuria yang ditemukan saat pemeriksaan penyaring rutin
pada orang sehat sekitar 3,5%.Jadi proteinuria tidak selalu merupakan
manifestasi kelainan ginjal.
Biasanya proteinuria baru dikatakan patologis bila
kadarnya diatas 200mg/hari.pada beberapa kali pemeriksaan dalam waktu yang
berbeda.Ada yang mengatakan proteinuria persisten jika protein urin telah
menetap selama 3 bulan atau lebih dan jumlahnya biasanya hanya sedikit diatas
nilai normal.Dikatakan proteinuria massif bila terdapat protein di urin
melebihi 3500 mg/hari dan biasanya mayoritas terdiri atas albumin.
Dalam keadaan normal, walaupun terdapat sejumlah
protein yang cukup besar atau beberapa gram protein plasma yang melalui nefron
setiap hari, hanya sedikit yang muncul didalam urin.Ini disebabkan 2 faktor
utama yang berperan yaitu:
1.Filtrasi glomerulus
2.Reabsorbsi protein tubulus
Patofisiologi Proteinuria
Proteinuria dapat meningkatkan melalui salah satu cara
dari ke-4 jalan yaitu:
1.Perubahan permeabilitas glumerulus yang mengikuti
peningkatan filtrasi dari protein plasma normal terutama abumin.
2.Kegagalan tubulus mereabsorbsi sejumlah kecil
protein yang normal difiltrasi.
3.Filtrasi glomerulus dari sirkulasi abnormal,Low
Molecular Weight Protein (LMWP) dalam jumlah melebihi kapasitas reabsorbsi
tubulus.
4.Sekresi yang meningkat dari mekuloprotein
uroepitel dan sekresi IgA dalam respon untuk inflamasi.
Derajat proteinuria dan komposisi protein pada urin
tergantung mekanisme jejas pada ginjal yang berakibat hilangnya
protein.Sejumlah besar protein secara normal melewati kapiler glomerulus tetapi
tidak memasuki urin.Muatan dan selektivitas dinding glomerulus mencegah
transportasi albumin, globulin dan protein dengan berat molekul besar lainnya
untuk menembus dinding glomerulus.Jika sawar ini rusak, terdapat kebocoran
protein plasma ke dalam urin (proteinuria glomerulus).Protein yang lebih kecil
(100 kDal) sementara foot processes dari epitel/podosit akan memungkinkan
lewatnya air dan zat terlarut kecil untuk transpor melalui saluran yang
sempit.Saluran ini ditutupi oleh anion glikoprotein yang kaya akan
glutamat,aspartat, dan asam silat yang bermuatan negatif pada pH
fisiologis.Muatan negatif akan menghalangi transpor molekul anion seperti
albumin.
Mekanisme lain dari timbulnya proteinuria ketika
produksi berlebihan dari proteinuria abnormal yang melebihi kapasitas
reabsorbsi tubulus.Ini biasanya sering dijumpai pada diskrasia sel plasma
(mieloma multipel dan limfoma) yang dihubungkan dengan produksi monoklonal
imunoglobulin rantai pendek.Rantai pendek ini dihasilkan dari kelainan yang
disaring oleh glomerulus dan di reabsorbsi kapasitasnya pada tubulus
proksimal.Bila ekskersi protein urin total melebihi 3,5 gram sehari, sering
dihubungkan dengan hipoalbuminemia, hiperlipidemia dan edema (sindrom
nefrotik).
Proteinuria Fisiologis
Proteinuria sebenarnya tidaklah selalu menunjukkan
kelainan/penyakit ginjal.Beberapa keadaan fisiologis pada individu sehat dapat
menyebabkan proteinuria.Pada keadaan fisiologis sering ditemukan proteinuria
ringan yang jumlahnya kurang dari 200 mg/hari dan bersifat sementara.Misalnya,
pada keadaaan demam tinggi, gagal jantung, latihan fisik yang kuat terutama
lari maraton dapat mencapai lebih dari 1 gram/hari, pasien hematuria yang
ditemukan proteinuria masif, yang sebabnya bukan karena kebocoran protein dari
glomerulus tetapi karena banyaknya protein dari eritrosit yang pecah dalam urin
akibat hematuri tersebut (positif palsu proteinuria masif).
Proteinuria Patologis
Sebaliknya, tidak semua penyakit ginjal menunjukkan
proteinuria, misalnya pada penyakit ginjal polikistik, penyakit ginjla
obstruksi, penyakit ginjal akibat obat-obatan analgestik dan kelainan
kongenital kista, sering tidak ditemukan proteinuria.Walaupun demikian
proteinuria adalah manifestasi besar penyakit ginjal dan merupakan indikator
perburukan fungsi ginjal.Baik pada penyakit ginjal diabetes maupun pada
penyakit ginjal non diabetes.
Kita mengenal 3 macam proteinuria yang patologis:
Proteinuria yang berat, sering kali disebut masif, terutama pada keadaan
nefrotik, yaitu protein didalam urin yang mengnadung lebih dari 3 gram/24 jam
pada dewasa atau 40 mg/m2/jam pada anak-anak, biasanya berhubungan secara
bermakna dengan lesi/kebocoran glomerulus.Sering pula dikatakan bila protein di
dalam urin melebihi 3,5 gram/24 jam.
Penyebab proteinuria masif sangat banyak, yang pasti
keadaan diabetes melitus yang cukup lama dengan retinopati dan penyakit
glomerulus.Terdapat 3 jenis proteinuria patologis:
1.Proteinuria glomerulus, misalnya:
mikroalbuminuria, proteinuria klinis.
2.Proteinuria tubular
3.Overflow proteinuria
1. Proteinuria Glomerulus
Bentuk proteinuria ini tampak pada hampir semua
penyakit ginjal dimana albumin adalah jenis protein yang paling dominan pada
urin sedangkan sisanya protein dengan berat molekul rendah ditemukan hanya
sejumlah kecil saja.
Dua faktor utama yang menyebabkan filtrasi
glomerulus protein plasma meningkat: 1). Ketika barier filtrasi diubah oleh
penyakit yang dipengaruhi glomerulus, protein plasma, terutama albumin,
mengalami kebocoran pada filtrat glomerulus pada sejumlah kapasitas tubulus
yang berlebihan yang menyebabkan proteinuria. Pada penyakit glomerulus dikenal
penyakit perubahan minimal, albuminuria disebabkan kegagalan selularitas yang
berubah. 2). Faktor-faktor hemodinamik menyebabkan proteinuria glomerulus oleh
tekanan difus yang meningkat tanpa perubahan apapun pada permeabilitas
intrinsik dinding kapiler glomerulus.
Proteinuria ini terjadi akibat kebocoran glomerulus
yang behubungan dengan kenaikan permeabilitas membran basal glomerulus terhadap
protein.
a. Mikroalbuminuria
Pada keadaan normal albumin urin tidak melebihi
30mg/hari. Bila albumin di urin 30-300mg/hari atau 30-350 mg/hari disebut
mikroalbuminuria. Mikroalbuminuria merupakan marker untuk proteinuria klinis
yang disertai dengan penurunan faal ginjal LFG (laju filtrasi glomerulus) dan
penyakit kardiovaskular sistemik. Pada pasien diabetes mellitus tipe I dan II,
kontrol ketat gula darah, tekanan darah dan mikroalbuminuria sangat penting.
Hipotesis mengapa mikroalbuminuria dihubungkan
dengan risiko penyakit kardiovaskular adalah karena disfungsi endotel yang
luas. Beberapa penelitian telah membuktikan adanya hubungan peranan kegagalan
sintesis nitrit oksid pada sel endotel yang berhubungan antara mikroalbuminuria
dengan risiko penyakit kardiovaskular.
b. Proteinuria Klinis
Pemeriksaan ditentukan dengan pemeriksaan semi
kuantitatif misalnya dengan uji Esbach dan Biuret. Proteinuria klinis dapat
ditemukan antara 1-5 g/hari.
2. Proteinuria Tubular
Jenis proteinuria ini mempunyai berat molekul yang
rendah antara 100-150 mg/hari, terdiri atas β-2 mikroglobulin dengan berat
molekul 14000 dalton. Penyakit yang biasanya menimbulkan proteinuria tubular
adalah: renal tubular acidosis (RTA), sarkoidosis, sindrom Faankoni,
pielonefritis kronik dan akibat cangkok ginjal.
3. Overflow Proteinuria
Diskrasia sel plasma (pada mieloma multipel)
berhubungan dengan sejumlah besar ekskresi rantai pendek/protein berat molekul
rendah (kurang dari 4000 dalton) berupa Light Chain Imunoglobulin, yang tidak
dapat di deteksi dengan pemeriksaan dipstik/ yang umumnya mendeteksi albumin/
pemeriksaan rutin biasa , tetapi harus pemeriksaan khusus. Protein jenis ini
disebut protein Bence Jonespenyakit lain yang dapat menimbulkan protein Bence
Jones adalah amiloidosis dan makroglobulinemia.
4. Proteinuria Isolasi
Adalah sejumlah protein yang ditemukan dalam urin
tanpa gejala pada pasien sehat yang tidak mengalami gangguan fungsi ginjal atau
penyakit sistemik.proteinuria ini hampir ditemukan secara kebetulan dapat
menetap/persisten, dapat pula hanya sementara, yang mungkin saja timbul karena
posisi lordotik tubuh pasien. Proteinuria terisolasi dibagi dalam 2 kategori:
1) jinak dan 2) yang lebih serius lagi adalah yang mungkin tidak ortostatik dan
timbul secara persisten.
a. Proteinuria Isolasi Jinak
1. Proteinuria fungsional
Ini adalah bentuk umum proteinuria yang sering
terlihat pada pasien yang dirawat di rumah sakit karena berbagai penyakit.
Proteinuria tersebut adalah jenis glomerulus yang diyakini disebabkan oleh
perubahan hemodinamik ginjal yang meningkatkan filtrasi glomerulus protein
plasma.
2. Proteinuria transien idiopatik
Merupakan kategori proteinuria yang umum pada
anak-anak dan dewasa muda, yang ditandai dengan proteinuria yang timbul selama
pemeriksaan urin rutin orang sehat tetapi hilang kembali setelah pemeriksaan
urin dilakukan kembali.
3. Proteinuria intermitten
Terdapat pada lebih dari separuh contoh urin pasien
yang tidak mempunyai bukti penyebab proteinuria. Prognosis pada kebanyakan
pasien adalah baik dan proteinuria kadang-kadang menghilang setelah beberapa
tahun.
4. Proteinuria ortostatik (postural)
Pada semua pasien dengan ekskresi protein massif,
proteinuria meningkat pada posisi tegak dibandingkan posisi berbaring.
Perubahan ortostatik pada ekskresi protein tampaknya tidak mempunyai
kepentingan diagnosis dan prognosis. Proteinuria sering terjadi pada usia
dewasa muda, jarang terdapat pada usia di atas 30 tahun.
Patofosiologi proteinuria ortostatik tidaklah
diketahui. Walaupun biasanya prognosis proteinuria ortostatik baik, persisten
(non-ortostatik) proteinuria berkembang pada segelintir orang.
b. Proteinuria Terisolasi yang Persisten/Menetap
Anamnesis secara lengkap dan pemeriksaan fisik yang
teliti untuk mencari penyakit ginjal/sistemik yang menjadi penyebabnya.
Cara Mengukur Protein di Dalam Urin
Metode yang dipakai untuk mengukur proteinuria saat
ini sangat bervariasi dan bermakna.Metode dipstik mendeteksi sebagian besar
albumin dan memberikan hasil positif palsu bila pH >7,0 dan bila urin sangat
pekat atau terkontaminasi darah.Urin yang sangat encer menutupi proteinuria
pada pemeriksaan dipstik.Jika proteinuria yang tidak mengndung albumin dalam
jumlah cukup banyak akan menjadi negatif palsu.Ini terutama sangat penting
untuk menentukan proteinBence Jones pada urin pasien dengan multipelk mieloma.Tes
untuk mengukur konsentrasi urin total secara benar seperti pada presipitasi
dengan asam sulfosalisilat atau asam triklorasetat.Sekarang ini, dipstik yang
sangat sensitif tersedia di pasaran dengan kemampuan mengukur mikroalbuminuria
(30-300 mg/hari) dan merupakan petanda awal dari penyakit glomerulus yang
terlihat untuk memprediksi jejas glomerulus pada nefropati diabetik dini.
Derajat proteinuria dan komposisi protein pada urin
tergantung dari mekanisme jejas pada ginjal yang berakibat hilangnya protein.Sejumlah
besar protein secara normal melewati kapiler glomerulus, tetapi tidak memasuki
urin.Muatan dan selektifitas dinding glomerulus mencegah transportasi albumin,
globulin, dan protein dengan berat molekul besar lainnya untuk menembus dinding
glomerulus.Akan tetapi, jika sawar ini rusak, terdapat kebocoran protein plsama
ke dalam urin (proteinuria glomerulus).Protein yang lebih kecil (100kDal)
sementara foot processes dari epitel atau podosit akan memungkinkan lewatnya
air dan solut kecil untuk transport melalui saluran yang sempit.Saluran ini
ditutupi oleh anion glikoprotein yang kaya akan glutamat, asam partat, asam
sialat yang bermuatan negatif pada pH fisiologis.Muatan negatif ini akan
menghalangi transport molekul anion seperti albumin.
Pemilihan sampel urin
Hasil urinalisa (pemeriksaan urin) terhadap kumpulan
urin sepanjang 24 jam pada seseorang akan memberikan hasil yang hampir sama
dengan urin sepanjang 24 jam berikutnya. Namun meskipun pada hari yang sama,
hasil pemeriksaan pada saat-saat tertentu akan memberikan hasil yang berbeda.
Sebagai contoh, urin pagi berbeda dengan urin siang atau malam. Berbagai jenis
sampel urin antara lain urin sewaktu, urin pagi, urin postprandial, urin 24 jam
serta urin 3 gelas dan urin 2 gelas pada pria
1. Urin sewaktu
Urin sewaktu adalah urin yang dikeluarkan pada suatu
waktu yang tak ditentukan secara khusus. Urin ini dapat digunakan untuk
berbagai macam pemeriksaan. Urin ini cukup baik untuk pemeriksaan rutin yang
mengikuti pemeriksaan badan tanpa pendapat khusus.
2. Urin pagi
Urin pagi adalah urin yang dikeluarkan paling pagi
setelah bangun tidur. Urin pagi lebih pekat daripada urin siang sehingga cocok
untuk pemeriksaan sedimen, berat jenis, protein dll. Bagi kalangan kebidanan,
urin pagi baik untuk pemeriksaan kehamilan berdasarkan adanya hormon human
chorionic gonadotrophin (HCG) di dalam urin.
3. Urin postprandial
Urin postprandial adalah urin yang pertama kali
dilepaskan 1,5-3 jam setelah makan.
Urin ini berguna untuk pemeriksaan glukosuria
(adanya glukosa di dalam urin)
4. Urin 24 jam
Urin 24 jam adalah urin yang dikumpulkan selama 24
jam, dengan cara:
a. Siapkan botol besar bersih bertutup (minimal 1,5
L) umumnya dilengkapi pengawet.
b. Jam 7 pagi urin dibuang.
c. Urin selanjutnya (termasuk jam 7 esok hari)
ditampung dan dicampur.
Urin 24 jam diperlukan untuk pemeriksaan
kuantitatif. Ada juga urin yang tak tak penuh 24 jam, misalnya urin siang 12
jam (jam 7 pagi
sampai dengan jam 7 malam) , urin malam 12 jam (jam
7 malam sampai dengan jam 7 pagi), urin 2 jam dll.
5. Urin 3 gelas dan urin 2 gelas
Urin 3 gelas adalah urin yang ditampung sejumlah 3
gelas, dengan cara:
a. Beberapa jam sebelumnya penderita dilarang
berkemih
b. Siapkan 3 gelas (sebaiknya gelas sedimen)
c. Penderita berkemih langsung ke dalam gelas tanpa
henti
Gelas I diisi 20-30 ml pertama (berisi sel-sel
uretra pars anterior dan prostatika)
Gelas II diisi volume berikutnya (berisi unsur-unsur
dari kandung kemih)
Gelas III diisi volume terakhir (berisi unsur-unsur
khusus dari uretra pars prostatika dan getah prostat)
Urin 2 gelas diperoleh dengan cara sama dengan urin
3 gelas, dengan 2 gelas saja, gelas pertama diisi 50-75 ml.Urin ini digunakan
untuk menentukan letak radang atau lesi yang menghasilkan darah atau nanah pada
urin seorang pria
ALAT
DAN BAHAN
Alat :
• Tabung reaksi
• Centrifuge dan tabungnya
• Penjepit
• Lampu spiritus
• Pipet tetes
Bahan :
• Asam asetat 10%
• Natrium asetat
• Asam asetat glasial
• Aquadest
• Urine sewaktu
CARA
KERJA
1. PEMANASAN DENGAN ASAM ASETAT
• Pembuatan reagen asam asetat 10%
• Tabung diisi dengan urin sebanyak ¾ nya
• Didihkan selama 1-2 menit
• Kekeruhan yang terjadi disebabkan oleh fosfat,
karbonat atau albumin
• Tambahkan 3 tetes asam asetat 10% tetes demi tetes
dalam keadaan mendidih, amati.
NO Pengamatan hasil Simbol
1 Tidak ada kekeruhan (-)
2 Kekeruhan sedikit sekali (±)
3 Kekeruhan sedikit (+) 10-50 mg %
4 Kekeruhan jelas (++) 50-200 mg %
5 Kekeruhan hebat (+++) 200-500 mg %
6 Kekeruhan menggumpal (++++) >500 mg %
2. PEMERIKSAAN SECARA BANG
• Pembuatan reagen
Natrium asetat 11,8 g dan asam asetat glacial
dilarutkan dalam aquadest sampai volumenya 100 ml
• 5 ml urine ditambah 0,5 ml reagen bang, kemudian
dipanaskan dalam air mendidih selama 5 menit, amati.
• Bila timbul kekeruhan berarti terdapat endapan protein.
HASIL :
Pembanding untuk pengamatan hasil uji:
PEMBAHASAN:
Fungsi ginjal merupakan membuang sisa metabolisme
yang tidak diperlukan oleh tubuh dan mengatur keseimbangan cairan serta
elektrolit tubuh. Setiap saat, secara teratur, darah yang beredar di tubuh kita
akan melewati ginjal untuk menjalani proses filtrasi di ginjal. Proses filtrasi
tersebut akan menghasilkan urin yang membawa serta sisa metabolisme tubuh yang
tidak diperlukan lagi. Sedangkan zat-zat yang berguna bagi tubuh, seperti
protein, tidak terfiltrasi dan tidak keluar di urin.
Proses metabolisme protein di dalam sistem
pencernaan akan menghasilkan asam amino yang kemudian ikut dalam peredaran
darah. Di dalam sel akan disintesa dan sebagai hasil akhir adalah asam urat.
Asam urat merupakan suatu zat racun jika ada di dalam tubuh maka hepar akan
dirombak sedikit demi sedikit menjadi urea dan dikeluarkan ginjal. Jika urine
mengandung protein biasanya berupa asam amino. Keadaan demikian merupakan
kelainan pada hepar ginjal.
Urine yang terdapat atau ditemukan protein disebut
proteinuria. Proteinuria ini ditandai dengan adanya kekeruhan setelah diuji
dengan suatu metode. Proteinuria ditentukan dengan berbagai cara yaitu: asam
sulfosalisilat, pemanasan dengan asam asetat, carik celup (hanya sensitif
terhadap albumin).
Pada prktikum ini kita melakukan dengan metode
pemanasan asama asetat dan bang.
Pada metode pemanasan dengan asam asetat dan metode
bang ini terbentuknya protein disebabkan sifat asam atau suasana asam.
Setelah diuji didapat hasil negatif yaitu dengan
melihat ada atau tidak adanya kekeruhan. Berarti fungsi renal bekerja dengan
baik dan tidak ada indikasi kelainan.
KESIMPULAN
:
1. PEMANASAN DENGAN ASAM ASETAT
Hasil negatif, yaitu urine tidak mengalami kekeruhan
atau berwarna kuning jernih. Artinya urine tidak mengandung protein.
2. PEMERIKSAAN SECARA BANG
Hasil negatif, sama dengan hasil uji pemanasan
dengan asam asetat. Tidak terdapat kekeruhan, yaitu tidak terdapat protein
dalam urine.
PEMERIKSAAN URINE TERHADAP GLUKOSA
TUJUAN
Untuk menentukan adanya glukosa dalam urine.
PRINSIP
Dalam suasana alkali kuat, ditambah dengan
pemanasan, gula-gula akan mereduksi ion cupri menjadi cupro dengan hasil
terjadi CuOH yang bewarna kuning atau CuO yang bewarna merah, tergantung dari
jumlah reduktor yang terdapat pada urine.
TINJAUAN PUSTAKA
PROSES PEMBENTUKAN URIN
Definisi: Yaitu proses pengeluaran zat-zat sisa
hasil metabolisme yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh.
Terdapat 3 proses penting yang berhubungan dengan
proses pembentukan urine, yaitu :
1. Filtrasi (penyaringan) : kapsula bowman dari
badan malpighi menyaring darah dalam glomerus yang mengandung air, garm, gula,
urea dan zat bermolekul besar (protein dan sel darah) sehingga dihasilkan
filtrat glomerus (urine primer). Di dalam filtrat ini terlarut zat yang masih
berguna bagi tubuh maupun zat yang tidak berguna bagi tubuh, misal glukosa, asm
amino dan garam-garam.
2. Reabsorbsi (penyerapan kembali) : dalam tubulus
kontortus proksimal zat dalam urine primer yang masih berguna akan direabsorbsi
yang dihasilkan filtrat tubulus (urine sekunder) dengan kadar urea yang tinggi
yang dapat bersifat racun bagi tubuh.
3. Ekskesi (pengeluaran) : dalam tubulus kontortus
distal, pembuluh darah menambahkan zat lain yang tidak digunakan dan terjadi
reabsornsi aktif ion Na+ dan Cl- dan sekresi H+ dan K+. Di tempat sudah
terbentuk urine yang sesungguhnya yang tidak terdapat glukosa dan protein lagi,
selanjutnya akan disalurkan ke tubulus kolektifus ke pelvis renalis.
Dari kedua ginjal, urine dialirkan oleh pembuluh
ureter ke kandung urine (vesika urinaria) kemudian melalui uretra, urine
dikeluarkan dari tubuh.
PENGELUARAN URINE
Proses jalannya pengeluaran urine dalam tubulus
kolektivus yang berada dalam ren diteruskan oleh ureter menuju vessica urinaria
menuju urethra dalam alat kelamin.
1. Pengeluaran urine diatur oleh hormone ADH (Anti
Diuretika Hormone).
Bila air minum yang masuk banyak maka pengeluaran
hormone ADH akan berkurang, sehingga urine yang dikeluarkan juga banyak. Hal
ini terjadi karena penyerapan air terhadap hormone ADH sedikit.
2. Bila air minum yang masuk sedikit maka
pengeluaran hormone ADH akan terpacu menjadi lebih banyak, sehingga urine yang
dikeluarkan akan menjadi sedikit. Hal ini terjadi karena penyerapan air
terhadap hormone ADH banyak.
DALAM URINE MENGANDUNG ZAT-ZAT SEPERTI:
1. Air sebanyak 95 %
2. Urea, asam ureat dan ammonia
3. Zat warna empedu (Bilirubin dan Biliverdin)
4. Garam mineral, terutama NaCl (Natrium Chlorida)
5. Zat-zat bersifat racun seperti sisa obat dan
hormon
FUNGSI URINE
1. Untuk membuang zat sisa seperti racun atau
obat-obatan dari dalam tubuh.
2. sebagai penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak
menderita dehidrasi akan mengeluarkan urin yang bening seperti air. Penderita
dehidrasi akan mengeluarkan urin berwarna kuning pekat atau cokelat
Glukosa
Terkadang orang menyebutnya gula anggur ataupun
dekstrosa. Banyak dijumpai di alam, terutama pada buah-buahan, sayur-sayuran,
madu, sirup jagung dan tetes tebu. Di dalam tubuh glukosa didapat dari hasil
akhir pencemaan amilum, sukrosa, maltosa dan laktosa.
Glukosa darah merupakan bahan bakar utama yang akan
diubah menjadi energi atau tenaga dan juga merupakan hasil yang paling besar
(Baron, 1990). Sebagai sumber energi, glukosa ditranspor dari sirkulasi darah
kedalam seluruh sel-sel tubuh untuk dimetabolisme. Sebagian glukosa yang ada
dalam sel diubah menjadi energi melalui proses glikolisis dan sebagian lagi
melalui proses glikogenesis diubah menjadi glikogen, dimana setiap saat dapat
diubah kembali menjadi glukosa bila diperlukan. Kadar glukosa darah puasa
normal sewaktu puasa adalah 80-90 mg/dL. Konsentrasi tersebut meningkat menjadi
120-140 mg/dL selama jam pertama atau lebih setelah makan dan normal dalam
waktu 2 jam setelah absorpsi karbohidrat yang terakhir.
Jika kadar urine terlalu besar dalam darah maka akan
dibuang melalui urine, padahal kurang dari 0,1% dari glukosa normal disaring
oleh glomerulus muncul dalam urin (kurang dari 130 mg/24 jam).
Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi
karena nilai ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang
menurun. Glukosuria umumnya berarti diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat
terjadi tidak sejalan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah, oleh karena
itu glukosuria tidak selalu dapat dipakai untuk menunjang diagnosis diabetes
mellitus. Untuk pengukuran glukosa urine, reagen strip diberi enzim glukosa
oksidase (GOD), peroksidase (POD) dan zat warna.
ALAT
DAN BAHAN
Alat :
• Tabung reaksi
• Lampu spiritus
• Penjepit kayu
• Gelas ukur
• Pipet tetes
Bahan :
• CuSO4.5H2O
• Asam sitrat
• Na2CO3 anhidrat
• Aquadest
• Glucotest strip
• Urine sewaktu
CARA KERJA :
1. BENEDICT
• Pembuatan reagen
Larutkan 17,3 g CuSO4.5H2O dalam 100 ml aquadest,
dengan pemanasan
larutkan 173 g natrium sitrat dan 100 g
Na2CO3anhidrat dalam 600 ml aquadest, panaskan kemudian saring
perlahan-lahan dengan adukan yang konstan tambahkan
larutan sitrat karbonat. Bersihkan seluruh CuSO4 dengan aquadest dan tambahkan
aquadest hingga mencapai volume 1000 ml
• masukkan 2,5 ml reagen benedict kedalam tabung
reaksi
• tambaahkan 0,25 ml (4 tetes) urine dan campurkan
• letakkan dalam penangas air mendidih selama 2-3
menit
• angkat dan langsung baca
No. Warna yang terjadi simbol Jumlah glukosa
yang terkandung dalam urin
1 Biru tidak ada endapan (-) 0,0 – 0,1 g/dl
2 Hijau dengan endapan kuning (+) 0,5 – 1,0 g/dl
3 Kuning (++) 1,0 – 1,5 g/dl
4 Orange (+++) 1,5 – 2,5 g/dl
5 Merah (++++) 2,5 – 4,0 g/dl
2. Glucotest strip
• celupkan strip ke dalam urin selama 30 detik
• baca hasil tersebut dengan membandingkan warna
yang didapat dengan warna standard
HASIL :
Pada dua metode ini, sampel urine tidak menunjukkan
gejala glukosuria. Dan urine sampel ini normal.
PEMBAHASAN :
Di dalam darah kadang terdapat jumlah glukosa yang
berlebihan karena kerja hormon insulin yang tidak sempurna yang disebut dengan
diabetes melitus. Keadaan demikian maka ginjal tidak bisa mempertahankan kadar
glukosa tersebut. Ginjal meloloskan masuk kedalam tubulus ginjal sehingga urine
yang dihasilkan akan mengandung gula.
Hal tersebutlah yang menyebabkan glukosuria.
Glukosuria atau glikosuria adalah ekskresi glukosa ke dalam urin. Seharusnya
air seni tidak mengandung glukosa, karena ginjal akan menyerap glukosa hasil
filtrasi kembali ke dalam sirkulasi darah. Hampir dapat dipastikan bahwa
penyebab glikosuria adalah simtoma hiperglisemia yang tidak mendapatkan
perawatan dengan baik, walaupun gangguan instrinsik pada ginjal kadang-kadang juga
dapat menginduksi glikosuria. Simtoma ini disebut glikosuria renal dan sangat
jarang terjadi.
Glikosuria akan menyebabkan dehidrasi karena air
akan terekskresi dalam jumlah banyak ke dalam air seni melalui proses yang
disebut diuresis osmosis.
Metode pemeriksaan glukosa urin yang berdasarkan
reaksi reduksi banyak macamnya, tetapi metode benedict dengan menggunakan
reagen kuprisulfat yang sampai saat ini masih banyak dipakai di laboratorium
sederhana untuk memeriksa glukosa urin.
CuSO4 + zat (red) Cu2O + zat (oks)
Hasil pemeriksaan bersifat kualitatif sehingga hanya
digunakan untuk pemeriksaan penyaring saja. Yang hanya bisa dinilai hanyalah
dari segi warna dan adanya endapan glukosa atau tidak.
Pada hasil praktikum uji glukosa pada urine ini,
tidak menunjukkan gejala atau terdapat nya glukosa pada urine sampel. Hal ini
menandakan urine sampel bersifat normal. Dan glukosa dalam darah tidak berlebih
hingga tidak masuk atau di loloskan ke dalam urine.
Faktor yang Dapat Mempengaruhi Hasil laboratorium
• Penggunaan obat-obatan tertentu
• Stress (fisik, emosional), demam, infeksi, trauma,
tirah baring, obesitas dapat meningkatkan kadar glukosa darah.
• Aktifitas berlebihan dan muntah dapat menurunkan
kadar glukosa darah. Obat hipoglikemik dapat menurunkan kadar glukosa darah.
• Usia. Orang lansia memiliki kadar glukosa darah
yang lebih tinggi. Sekresi insulin menurun karena proses penuaan.
KESIMPULAN :
1. Metoda Benedict
Berdasarkan percobaan yang dilakukan diperoleh warna
yang terjadi saat benedict ditetesi urin dan dipanaskan adalah berwarna biru
kehijauan serta tidak didapatkan endapan atau sampel jernih. Ini berarti urin
tersebut tidak mengandung glukosa.
2. Metoda glucotest strip
Bedasarkan percobaan yang dilakukan didapatkan warna
strip biru setelah dicelupkan ke dalam urin. Strip tersebut lalu dilihat pada
parameter indikator. Warna yang terbentuk menunjukkan angka 0 (normal), ini
berarti urin tersebut tidak mengandung glukosa.
DAFTAR
PUSTAKA
Baron, D.N, 1990, Patologi Klinik, Ed IV, Terj.
Andrianto P dan Gunakan J, Penerbit EGC, Jakarta.
Depkes, 1991, Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium
Puskesmas,Jakarta,Depkes
Guyton, A.C, 1983, Buku Teks Fisiologi Kedokteran,
edisi V, bagian 2, terjemahan Adji Dharma et al.,E.G.C., Jakarta.
Poedjiadi, Supriyanti, 2007, Dasr-Dasar Biokimia,
Bandung, UI Press
Toha, 2001, Biokimia, Metabolisme Biomolekul,
Bandung, Alfabeta PEMERIKSAAN
URINE TERHADAP PROTEIN
TUJUAN
1. Untuk menentukan adanya protein dalam urine
2. Untuk menentukan adanya indikasi
kelainan-kelainan pada fungsi renal
PRINSIP
Pemeriksaan berdasarkan pengendapan protein yang
terjadi dalam suasana asam, karena hasil pemeriksaan dinilai dari kekeruhan,
maka urine harus jernih.
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Urine :
Urine atau air seni atau air kencing merupakan
cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal kemudian dikeluarkan dari dalam
tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urine diperlukan untuk membuang
molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga
homeostasis cairan tubuh. Urine disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter
menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.
Urine normal biasanya berwarna kuning, berbau khas
jika didiamkan berbau ammoniak, pH berkisar 4,8 – 7,5 dan biasanya 6 atau 7.
Berat jenis urine 1,002 – 1,035. Volume normal perhari 900 – 1400 ml.
Proses Terbentuknya Urine :
Penyaringan darah pada ginjal lalu terjadilah urine.
Darah masuk ginjal melalui pembuluh nadi ginjal. Ketika berada di dalam
membrane glomenulus, zat-zat yang terdapat dalam darah (air, gula, asam amino
dan urea) merembes keluar dari pembuluh darah kemudian masuk kedalam simpai/kapsul
bowman dan menjadi urine primer. Proses ini disebut filtrasi. Urine primer dari
kapsul bowman mengalir melalui saluran-saluran halus (tubulus kontortokus
proksimal). Di saluran-saluran ini zat-zat yang masih berguna, misalnya gula,
akan diserap kembali oleh darah melalui pembuluh darah yang mengelilingi
saluran tersebut sehingga terbentuk urine sekunder. Proses ini disebut
reabsorpsi.
Urine sekunder yang terbentuk kemudian masuk tubulus
kotortokus distal dan mengalami penambahan zat sisa metabolism maupun zat yang
tidak mampu disimpan dan akhirnya terbentuklah urnine sesungguhnya yang
dialirkan ke kandung kemih melalui ureter. Proses ini disebut augmentasi.
Apabila kandung kemih telah penuh dengan urine, tekanan urine pada dinding
kandung kamih akan menimbulkan rasa ingin buang air kecil atau kencing.
Banyaknya urine yang dikeluarkan dari dalam tubuh
seseorang yang normal sekitar 5 liter setiap hari. Faktor yang mempengaruhi
pengeluaran urine dari dalam tubuh tergantung dari banyaknya ar yang diminum
dan keadaan suhu apabila suhu udara dingin, pembentukan urine meningkat
sedangkan jika suhu panas, pembentukan urine sedikit.
Pada saat minum banyak air, kelebihan air akan
dibuang melalui ginjal. Oleh karena itu jika banyak minum akan banyak
mengeluarkan urine. Warna urine setiap orang berbeda-beda. Warna urine biasanya
dipengaruhi oleh jenis makanan yang dimakan, jenis kegiatan atau dapat pula
disebabkan oleh penyakit. Namun biasanya warna urine normal berkisar dari warna
bening sampai warna kuning pucat.
Komposisi Urine :
• Air ( seperti urea )
• Garam terlarut
• Materi organik
Secara kimiawi kandungan zat dalam urine diantaranya
adalah sampah nitrogen (ureum, kreatinin dan asam urat), asam hipurat zat sisa
pencernaan sayuran dan buah, badanketon zat sisa metabolism lemak, ion-ion
elektrolit (Na, Cl, K, Amonium, sulfat,Ca dan Mg), hormone, zat toksin (obat,
vitamin dan zat kimia asing), zat abnormal (protein, glukosa, sel darah Kristal
kapur dsb)
• PROTEINURIA
Proteinuria yaitu urin manusia yang terdapat protein
yang melebihi nilai normalnya yaitu lebih dari 150 mg/24 jam atau pada
anak-anak lebih dari 140 mg/m2.Dalam keadaan normal, protein didalam urin
sampai sejumlah tertentu masih dianggap fungsional.
Sejumlah protein ditemukan pada pemeriksaan urin rutin,
baik tanpa gejala, ataupun dapat menjadi gejala awal dan mungkin suatu bukti
adanya penyakit ginjal yang serius.Walaupun penyakit ginjal yang penting jarang
tanpa adanya proteinuria, kebanyakan kasus proteinuria biasanya bersifat
sementara, tidak penting atau merupakan penyakit ginjal yang tidak
progresif.Lagipula protein dikeluarkan urin dalam jumlah yang bervariasi
sedikit dan secara langsung bertanggung jawab untuk metabolisme yang
serius.adanya protein di dalam urin sangatlah penting, dan memerlukan
penelitian lebih lanjut untuk menentukan adanya penyebab/penyakit
dasarnya.Adapun proteinuria yang ditemukan saat pemeriksaan penyaring rutin
pada orang sehat sekitar 3,5%.Jadi proteinuria tidak selalu merupakan
manifestasi kelainan ginjal.
Biasanya proteinuria baru dikatakan patologis bila
kadarnya diatas 200mg/hari.pada beberapa kali pemeriksaan dalam waktu yang
berbeda.Ada yang mengatakan proteinuria persisten jika protein urin telah
menetap selama 3 bulan atau lebih dan jumlahnya biasanya hanya sedikit diatas
nilai normal.Dikatakan proteinuria massif bila terdapat protein di urin
melebihi 3500 mg/hari dan biasanya mayoritas terdiri atas albumin.
Dalam keadaan normal, walaupun terdapat sejumlah
protein yang cukup besar atau beberapa gram protein plasma yang melalui nefron
setiap hari, hanya sedikit yang muncul didalam urin.Ini disebabkan 2 faktor
utama yang berperan yaitu:
1.Filtrasi glomerulus
2.Reabsorbsi protein tubulus
Patofisiologi Proteinuria
Proteinuria dapat meningkatkan melalui salah satu cara
dari ke-4 jalan yaitu:
1.Perubahan permeabilitas glumerulus yang mengikuti
peningkatan filtrasi dari protein plasma normal terutama abumin.
2.Kegagalan tubulus mereabsorbsi sejumlah kecil
protein yang normal difiltrasi.
3.Filtrasi glomerulus dari sirkulasi abnormal,Low
Molecular Weight Protein (LMWP) dalam jumlah melebihi kapasitas reabsorbsi
tubulus.
4.Sekresi yang meningkat dari mekuloprotein
uroepitel dan sekresi IgA dalam respon untuk inflamasi.
Derajat proteinuria dan komposisi protein pada urin
tergantung mekanisme jejas pada ginjal yang berakibat hilangnya
protein.Sejumlah besar protein secara normal melewati kapiler glomerulus tetapi
tidak memasuki urin.Muatan dan selektivitas dinding glomerulus mencegah
transportasi albumin, globulin dan protein dengan berat molekul besar lainnya
untuk menembus dinding glomerulus.Jika sawar ini rusak, terdapat kebocoran
protein plasma ke dalam urin (proteinuria glomerulus).Protein yang lebih kecil
(100 kDal) sementara foot processes dari epitel/podosit akan memungkinkan
lewatnya air dan zat terlarut kecil untuk transpor melalui saluran yang
sempit.Saluran ini ditutupi oleh anion glikoprotein yang kaya akan
glutamat,aspartat, dan asam silat yang bermuatan negatif pada pH
fisiologis.Muatan negatif akan menghalangi transpor molekul anion seperti
albumin.
Mekanisme lain dari timbulnya proteinuria ketika
produksi berlebihan dari proteinuria abnormal yang melebihi kapasitas
reabsorbsi tubulus.Ini biasanya sering dijumpai pada diskrasia sel plasma
(mieloma multipel dan limfoma) yang dihubungkan dengan produksi monoklonal
imunoglobulin rantai pendek.Rantai pendek ini dihasilkan dari kelainan yang
disaring oleh glomerulus dan di reabsorbsi kapasitasnya pada tubulus
proksimal.Bila ekskersi protein urin total melebihi 3,5 gram sehari, sering
dihubungkan dengan hipoalbuminemia, hiperlipidemia dan edema (sindrom
nefrotik).
Proteinuria Fisiologis
Proteinuria sebenarnya tidaklah selalu menunjukkan
kelainan/penyakit ginjal.Beberapa keadaan fisiologis pada individu sehat dapat
menyebabkan proteinuria.Pada keadaan fisiologis sering ditemukan proteinuria
ringan yang jumlahnya kurang dari 200 mg/hari dan bersifat sementara.Misalnya,
pada keadaaan demam tinggi, gagal jantung, latihan fisik yang kuat terutama
lari maraton dapat mencapai lebih dari 1 gram/hari, pasien hematuria yang
ditemukan proteinuria masif, yang sebabnya bukan karena kebocoran protein dari
glomerulus tetapi karena banyaknya protein dari eritrosit yang pecah dalam urin
akibat hematuri tersebut (positif palsu proteinuria masif).
Proteinuria Patologis
Sebaliknya, tidak semua penyakit ginjal menunjukkan
proteinuria, misalnya pada penyakit ginjal polikistik, penyakit ginjla
obstruksi, penyakit ginjal akibat obat-obatan analgestik dan kelainan
kongenital kista, sering tidak ditemukan proteinuria.Walaupun demikian
proteinuria adalah manifestasi besar penyakit ginjal dan merupakan indikator
perburukan fungsi ginjal.Baik pada penyakit ginjal diabetes maupun pada
penyakit ginjal non diabetes.
Kita mengenal 3 macam proteinuria yang patologis:
Proteinuria yang berat, sering kali disebut masif, terutama pada keadaan
nefrotik, yaitu protein didalam urin yang mengnadung lebih dari 3 gram/24 jam
pada dewasa atau 40 mg/m2/jam pada anak-anak, biasanya berhubungan secara
bermakna dengan lesi/kebocoran glomerulus.Sering pula dikatakan bila protein di
dalam urin melebihi 3,5 gram/24 jam.
Penyebab proteinuria masif sangat banyak, yang pasti
keadaan diabetes melitus yang cukup lama dengan retinopati dan penyakit
glomerulus.Terdapat 3 jenis proteinuria patologis:
1.Proteinuria glomerulus, misalnya:
mikroalbuminuria, proteinuria klinis.
2.Proteinuria tubular
3.Overflow proteinuria
1. Proteinuria Glomerulus
Bentuk proteinuria ini tampak pada hampir semua
penyakit ginjal dimana albumin adalah jenis protein yang paling dominan pada
urin sedangkan sisanya protein dengan berat molekul rendah ditemukan hanya
sejumlah kecil saja.
Dua faktor utama yang menyebabkan filtrasi
glomerulus protein plasma meningkat: 1). Ketika barier filtrasi diubah oleh
penyakit yang dipengaruhi glomerulus, protein plasma, terutama albumin,
mengalami kebocoran pada filtrat glomerulus pada sejumlah kapasitas tubulus
yang berlebihan yang menyebabkan proteinuria. Pada penyakit glomerulus dikenal
penyakit perubahan minimal, albuminuria disebabkan kegagalan selularitas yang
berubah. 2). Faktor-faktor hemodinamik menyebabkan proteinuria glomerulus oleh
tekanan difus yang meningkat tanpa perubahan apapun pada permeabilitas
intrinsik dinding kapiler glomerulus.
Proteinuria ini terjadi akibat kebocoran glomerulus
yang behubungan dengan kenaikan permeabilitas membran basal glomerulus terhadap
protein.
a. Mikroalbuminuria
Pada keadaan normal albumin urin tidak melebihi
30mg/hari. Bila albumin di urin 30-300mg/hari atau 30-350 mg/hari disebut
mikroalbuminuria. Mikroalbuminuria merupakan marker untuk proteinuria klinis
yang disertai dengan penurunan faal ginjal LFG (laju filtrasi glomerulus) dan
penyakit kardiovaskular sistemik. Pada pasien diabetes mellitus tipe I dan II,
kontrol ketat gula darah, tekanan darah dan mikroalbuminuria sangat penting.
Hipotesis mengapa mikroalbuminuria dihubungkan
dengan risiko penyakit kardiovaskular adalah karena disfungsi endotel yang
luas. Beberapa penelitian telah membuktikan adanya hubungan peranan kegagalan
sintesis nitrit oksid pada sel endotel yang berhubungan antara mikroalbuminuria
dengan risiko penyakit kardiovaskular.
b. Proteinuria Klinis
Pemeriksaan ditentukan dengan pemeriksaan semi
kuantitatif misalnya dengan uji Esbach dan Biuret. Proteinuria klinis dapat
ditemukan antara 1-5 g/hari.
2. Proteinuria Tubular
Jenis proteinuria ini mempunyai berat molekul yang
rendah antara 100-150 mg/hari, terdiri atas β-2 mikroglobulin dengan berat
molekul 14000 dalton. Penyakit yang biasanya menimbulkan proteinuria tubular
adalah: renal tubular acidosis (RTA), sarkoidosis, sindrom Faankoni,
pielonefritis kronik dan akibat cangkok ginjal.
3. Overflow Proteinuria
Diskrasia sel plasma (pada mieloma multipel)
berhubungan dengan sejumlah besar ekskresi rantai pendek/protein berat molekul
rendah (kurang dari 4000 dalton) berupa Light Chain Imunoglobulin, yang tidak
dapat di deteksi dengan pemeriksaan dipstik/ yang umumnya mendeteksi albumin/
pemeriksaan rutin biasa , tetapi harus pemeriksaan khusus. Protein jenis ini
disebut protein Bence Jonespenyakit lain yang dapat menimbulkan protein Bence
Jones adalah amiloidosis dan makroglobulinemia.
4. Proteinuria Isolasi
Adalah sejumlah protein yang ditemukan dalam urin
tanpa gejala pada pasien sehat yang tidak mengalami gangguan fungsi ginjal atau
penyakit sistemik.proteinuria ini hampir ditemukan secara kebetulan dapat
menetap/persisten, dapat pula hanya sementara, yang mungkin saja timbul karena
posisi lordotik tubuh pasien. Proteinuria terisolasi dibagi dalam 2 kategori:
1) jinak dan 2) yang lebih serius lagi adalah yang mungkin tidak ortostatik dan
timbul secara persisten.
a. Proteinuria Isolasi Jinak
1. Proteinuria fungsional
Ini adalah bentuk umum proteinuria yang sering
terlihat pada pasien yang dirawat di rumah sakit karena berbagai penyakit.
Proteinuria tersebut adalah jenis glomerulus yang diyakini disebabkan oleh
perubahan hemodinamik ginjal yang meningkatkan filtrasi glomerulus protein
plasma.
2. Proteinuria transien idiopatik
Merupakan kategori proteinuria yang umum pada
anak-anak dan dewasa muda, yang ditandai dengan proteinuria yang timbul selama
pemeriksaan urin rutin orang sehat tetapi hilang kembali setelah pemeriksaan
urin dilakukan kembali.
3. Proteinuria intermitten
Terdapat pada lebih dari separuh contoh urin pasien
yang tidak mempunyai bukti penyebab proteinuria. Prognosis pada kebanyakan
pasien adalah baik dan proteinuria kadang-kadang menghilang setelah beberapa
tahun.
4. Proteinuria ortostatik (postural)
Pada semua pasien dengan ekskresi protein massif,
proteinuria meningkat pada posisi tegak dibandingkan posisi berbaring.
Perubahan ortostatik pada ekskresi protein tampaknya tidak mempunyai
kepentingan diagnosis dan prognosis. Proteinuria sering terjadi pada usia
dewasa muda, jarang terdapat pada usia di atas 30 tahun.
Patofosiologi proteinuria ortostatik tidaklah
diketahui. Walaupun biasanya prognosis proteinuria ortostatik baik, persisten
(non-ortostatik) proteinuria berkembang pada segelintir orang.
b. Proteinuria Terisolasi yang Persisten/Menetap
Anamnesis secara lengkap dan pemeriksaan fisik yang
teliti untuk mencari penyakit ginjal/sistemik yang menjadi penyebabnya.
Cara Mengukur Protein di Dalam Urin
Metode yang dipakai untuk mengukur proteinuria saat
ini sangat bervariasi dan bermakna.Metode dipstik mendeteksi sebagian besar
albumin dan memberikan hasil positif palsu bila pH >7,0 dan bila urin sangat
pekat atau terkontaminasi darah.Urin yang sangat encer menutupi proteinuria
pada pemeriksaan dipstik.Jika proteinuria yang tidak mengndung albumin dalam
jumlah cukup banyak akan menjadi negatif palsu.Ini terutama sangat penting
untuk menentukan proteinBence Jones pada urin pasien dengan multipelk mieloma.Tes
untuk mengukur konsentrasi urin total secara benar seperti pada presipitasi
dengan asam sulfosalisilat atau asam triklorasetat.Sekarang ini, dipstik yang
sangat sensitif tersedia di pasaran dengan kemampuan mengukur mikroalbuminuria
(30-300 mg/hari) dan merupakan petanda awal dari penyakit glomerulus yang
terlihat untuk memprediksi jejas glomerulus pada nefropati diabetik dini.
Derajat proteinuria dan komposisi protein pada urin
tergantung dari mekanisme jejas pada ginjal yang berakibat hilangnya protein.Sejumlah
besar protein secara normal melewati kapiler glomerulus, tetapi tidak memasuki
urin.Muatan dan selektifitas dinding glomerulus mencegah transportasi albumin,
globulin, dan protein dengan berat molekul besar lainnya untuk menembus dinding
glomerulus.Akan tetapi, jika sawar ini rusak, terdapat kebocoran protein plsama
ke dalam urin (proteinuria glomerulus).Protein yang lebih kecil (100kDal)
sementara foot processes dari epitel atau podosit akan memungkinkan lewatnya
air dan solut kecil untuk transport melalui saluran yang sempit.Saluran ini
ditutupi oleh anion glikoprotein yang kaya akan glutamat, asam partat, asam
sialat yang bermuatan negatif pada pH fisiologis.Muatan negatif ini akan
menghalangi transport molekul anion seperti albumin.
Pemilihan sampel urin
Hasil urinalisa (pemeriksaan urin) terhadap kumpulan
urin sepanjang 24 jam pada seseorang akan memberikan hasil yang hampir sama
dengan urin sepanjang 24 jam berikutnya. Namun meskipun pada hari yang sama,
hasil pemeriksaan pada saat-saat tertentu akan memberikan hasil yang berbeda.
Sebagai contoh, urin pagi berbeda dengan urin siang atau malam. Berbagai jenis
sampel urin antara lain urin sewaktu, urin pagi, urin postprandial, urin 24 jam
serta urin 3 gelas dan urin 2 gelas pada pria
1. Urin sewaktu
Urin sewaktu adalah urin yang dikeluarkan pada suatu
waktu yang tak ditentukan secara khusus. Urin ini dapat digunakan untuk
berbagai macam pemeriksaan. Urin ini cukup baik untuk pemeriksaan rutin yang
mengikuti pemeriksaan badan tanpa pendapat khusus.
2. Urin pagi
Urin pagi adalah urin yang dikeluarkan paling pagi
setelah bangun tidur. Urin pagi lebih pekat daripada urin siang sehingga cocok
untuk pemeriksaan sedimen, berat jenis, protein dll. Bagi kalangan kebidanan,
urin pagi baik untuk pemeriksaan kehamilan berdasarkan adanya hormon human
chorionic gonadotrophin (HCG) di dalam urin.
3. Urin postprandial
Urin postprandial adalah urin yang pertama kali
dilepaskan 1,5-3 jam setelah makan.
Urin ini berguna untuk pemeriksaan glukosuria
(adanya glukosa di dalam urin)
4. Urin 24 jam
Urin 24 jam adalah urin yang dikumpulkan selama 24
jam, dengan cara:
a. Siapkan botol besar bersih bertutup (minimal 1,5
L) umumnya dilengkapi pengawet.
b. Jam 7 pagi urin dibuang.
c. Urin selanjutnya (termasuk jam 7 esok hari)
ditampung dan dicampur.
Urin 24 jam diperlukan untuk pemeriksaan
kuantitatif. Ada juga urin yang tak tak penuh 24 jam, misalnya urin siang 12
jam (jam 7 pagi
sampai dengan jam 7 malam) , urin malam 12 jam (jam
7 malam sampai dengan jam 7 pagi), urin 2 jam dll.
5. Urin 3 gelas dan urin 2 gelas
Urin 3 gelas adalah urin yang ditampung sejumlah 3
gelas, dengan cara:
a. Beberapa jam sebelumnya penderita dilarang
berkemih
b. Siapkan 3 gelas (sebaiknya gelas sedimen)
c. Penderita berkemih langsung ke dalam gelas tanpa
henti
Gelas I diisi 20-30 ml pertama (berisi sel-sel
uretra pars anterior dan prostatika)
Gelas II diisi volume berikutnya (berisi unsur-unsur
dari kandung kemih)
Gelas III diisi volume terakhir (berisi unsur-unsur
khusus dari uretra pars prostatika dan getah prostat)
Urin 2 gelas diperoleh dengan cara sama dengan urin
3 gelas, dengan 2 gelas saja, gelas pertama diisi 50-75 ml.Urin ini digunakan
untuk menentukan letak radang atau lesi yang menghasilkan darah atau nanah pada
urin seorang pria
ALAT
DAN BAHAN
Alat :
• Tabung reaksi
• Centrifuge dan tabungnya
• Penjepit
• Lampu spiritus
• Pipet tetes
Bahan :
• Asam asetat 10%
• Natrium asetat
• Asam asetat glasial
• Aquadest
• Urine sewaktu
CARA
KERJA
1. PEMANASAN DENGAN ASAM ASETAT
• Pembuatan reagen asam asetat 10%
• Tabung diisi dengan urin sebanyak ¾ nya
• Didihkan selama 1-2 menit
• Kekeruhan yang terjadi disebabkan oleh fosfat,
karbonat atau albumin
• Tambahkan 3 tetes asam asetat 10% tetes demi tetes
dalam keadaan mendidih, amati.
NO Pengamatan hasil Simbol
1 Tidak ada kekeruhan (-)
2 Kekeruhan sedikit sekali (±)
3 Kekeruhan sedikit (+) 10-50 mg %
4 Kekeruhan jelas (++) 50-200 mg %
5 Kekeruhan hebat (+++) 200-500 mg %
6 Kekeruhan menggumpal (++++) >500 mg %
2. PEMERIKSAAN SECARA BANG
• Pembuatan reagen
Natrium asetat 11,8 g dan asam asetat glacial
dilarutkan dalam aquadest sampai volumenya 100 ml
• 5 ml urine ditambah 0,5 ml reagen bang, kemudian
dipanaskan dalam air mendidih selama 5 menit, amati.
• Bila timbul kekeruhan berarti terdapat endapan protein.
HASIL :
Pembanding untuk pengamatan hasil uji:
PEMBAHASAN:
Fungsi ginjal merupakan membuang sisa metabolisme
yang tidak diperlukan oleh tubuh dan mengatur keseimbangan cairan serta
elektrolit tubuh. Setiap saat, secara teratur, darah yang beredar di tubuh kita
akan melewati ginjal untuk menjalani proses filtrasi di ginjal. Proses filtrasi
tersebut akan menghasilkan urin yang membawa serta sisa metabolisme tubuh yang
tidak diperlukan lagi. Sedangkan zat-zat yang berguna bagi tubuh, seperti
protein, tidak terfiltrasi dan tidak keluar di urin.
Proses metabolisme protein di dalam sistem
pencernaan akan menghasilkan asam amino yang kemudian ikut dalam peredaran
darah. Di dalam sel akan disintesa dan sebagai hasil akhir adalah asam urat.
Asam urat merupakan suatu zat racun jika ada di dalam tubuh maka hepar akan
dirombak sedikit demi sedikit menjadi urea dan dikeluarkan ginjal. Jika urine
mengandung protein biasanya berupa asam amino. Keadaan demikian merupakan
kelainan pada hepar ginjal.
Urine yang terdapat atau ditemukan protein disebut
proteinuria. Proteinuria ini ditandai dengan adanya kekeruhan setelah diuji
dengan suatu metode. Proteinuria ditentukan dengan berbagai cara yaitu: asam
sulfosalisilat, pemanasan dengan asam asetat, carik celup (hanya sensitif
terhadap albumin).
Pada prktikum ini kita melakukan dengan metode
pemanasan asama asetat dan bang.
Pada metode pemanasan dengan asam asetat dan metode
bang ini terbentuknya protein disebabkan sifat asam atau suasana asam.
Setelah diuji didapat hasil negatif yaitu dengan
melihat ada atau tidak adanya kekeruhan. Berarti fungsi renal bekerja dengan
baik dan tidak ada indikasi kelainan.
KESIMPULAN
:
1. PEMANASAN DENGAN ASAM ASETAT
Hasil negatif, yaitu urine tidak mengalami kekeruhan
atau berwarna kuning jernih. Artinya urine tidak mengandung protein.
2. PEMERIKSAAN SECARA BANG
Hasil negatif, sama dengan hasil uji pemanasan
dengan asam asetat. Tidak terdapat kekeruhan, yaitu tidak terdapat protein
dalam urine.
PEMERIKSAAN URINE TERHADAP GLUKOSA
TUJUAN
Untuk menentukan adanya glukosa dalam urine.
PRINSIP
Dalam suasana alkali kuat, ditambah dengan
pemanasan, gula-gula akan mereduksi ion cupri menjadi cupro dengan hasil
terjadi CuOH yang bewarna kuning atau CuO yang bewarna merah, tergantung dari
jumlah reduktor yang terdapat pada urine.
TINJAUAN PUSTAKA
PROSES PEMBENTUKAN URIN
Definisi: Yaitu proses pengeluaran zat-zat sisa
hasil metabolisme yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh.
Terdapat 3 proses penting yang berhubungan dengan
proses pembentukan urine, yaitu :
1. Filtrasi (penyaringan) : kapsula bowman dari
badan malpighi menyaring darah dalam glomerus yang mengandung air, garm, gula,
urea dan zat bermolekul besar (protein dan sel darah) sehingga dihasilkan
filtrat glomerus (urine primer). Di dalam filtrat ini terlarut zat yang masih
berguna bagi tubuh maupun zat yang tidak berguna bagi tubuh, misal glukosa, asm
amino dan garam-garam.
2. Reabsorbsi (penyerapan kembali) : dalam tubulus
kontortus proksimal zat dalam urine primer yang masih berguna akan direabsorbsi
yang dihasilkan filtrat tubulus (urine sekunder) dengan kadar urea yang tinggi
yang dapat bersifat racun bagi tubuh.
3. Ekskesi (pengeluaran) : dalam tubulus kontortus
distal, pembuluh darah menambahkan zat lain yang tidak digunakan dan terjadi
reabsornsi aktif ion Na+ dan Cl- dan sekresi H+ dan K+. Di tempat sudah
terbentuk urine yang sesungguhnya yang tidak terdapat glukosa dan protein lagi,
selanjutnya akan disalurkan ke tubulus kolektifus ke pelvis renalis.
Dari kedua ginjal, urine dialirkan oleh pembuluh
ureter ke kandung urine (vesika urinaria) kemudian melalui uretra, urine
dikeluarkan dari tubuh.
PENGELUARAN URINE
Proses jalannya pengeluaran urine dalam tubulus
kolektivus yang berada dalam ren diteruskan oleh ureter menuju vessica urinaria
menuju urethra dalam alat kelamin.
1. Pengeluaran urine diatur oleh hormone ADH (Anti
Diuretika Hormone).
Bila air minum yang masuk banyak maka pengeluaran
hormone ADH akan berkurang, sehingga urine yang dikeluarkan juga banyak. Hal
ini terjadi karena penyerapan air terhadap hormone ADH sedikit.
2. Bila air minum yang masuk sedikit maka
pengeluaran hormone ADH akan terpacu menjadi lebih banyak, sehingga urine yang
dikeluarkan akan menjadi sedikit. Hal ini terjadi karena penyerapan air
terhadap hormone ADH banyak.
DALAM URINE MENGANDUNG ZAT-ZAT SEPERTI:
1. Air sebanyak 95 %
2. Urea, asam ureat dan ammonia
3. Zat warna empedu (Bilirubin dan Biliverdin)
4. Garam mineral, terutama NaCl (Natrium Chlorida)
5. Zat-zat bersifat racun seperti sisa obat dan
hormon
FUNGSI URINE
1. Untuk membuang zat sisa seperti racun atau
obat-obatan dari dalam tubuh.
2. sebagai penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak
menderita dehidrasi akan mengeluarkan urin yang bening seperti air. Penderita
dehidrasi akan mengeluarkan urin berwarna kuning pekat atau cokelat
Glukosa
Terkadang orang menyebutnya gula anggur ataupun
dekstrosa. Banyak dijumpai di alam, terutama pada buah-buahan, sayur-sayuran,
madu, sirup jagung dan tetes tebu. Di dalam tubuh glukosa didapat dari hasil
akhir pencemaan amilum, sukrosa, maltosa dan laktosa.
Glukosa darah merupakan bahan bakar utama yang akan
diubah menjadi energi atau tenaga dan juga merupakan hasil yang paling besar
(Baron, 1990). Sebagai sumber energi, glukosa ditranspor dari sirkulasi darah
kedalam seluruh sel-sel tubuh untuk dimetabolisme. Sebagian glukosa yang ada
dalam sel diubah menjadi energi melalui proses glikolisis dan sebagian lagi
melalui proses glikogenesis diubah menjadi glikogen, dimana setiap saat dapat
diubah kembali menjadi glukosa bila diperlukan. Kadar glukosa darah puasa
normal sewaktu puasa adalah 80-90 mg/dL. Konsentrasi tersebut meningkat menjadi
120-140 mg/dL selama jam pertama atau lebih setelah makan dan normal dalam
waktu 2 jam setelah absorpsi karbohidrat yang terakhir.
Jika kadar urine terlalu besar dalam darah maka akan
dibuang melalui urine, padahal kurang dari 0,1% dari glukosa normal disaring
oleh glomerulus muncul dalam urin (kurang dari 130 mg/24 jam).
Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi
karena nilai ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang
menurun. Glukosuria umumnya berarti diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat
terjadi tidak sejalan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah, oleh karena
itu glukosuria tidak selalu dapat dipakai untuk menunjang diagnosis diabetes
mellitus. Untuk pengukuran glukosa urine, reagen strip diberi enzim glukosa
oksidase (GOD), peroksidase (POD) dan zat warna.
ALAT
DAN BAHAN
Alat :
• Tabung reaksi
• Lampu spiritus
• Penjepit kayu
• Gelas ukur
• Pipet tetes
Bahan :
• CuSO4.5H2O
• Asam sitrat
• Na2CO3 anhidrat
• Aquadest
• Glucotest strip
• Urine sewaktu
CARA KERJA :
1. BENEDICT
• Pembuatan reagen
Larutkan 17,3 g CuSO4.5H2O dalam 100 ml aquadest,
dengan pemanasan
larutkan 173 g natrium sitrat dan 100 g
Na2CO3anhidrat dalam 600 ml aquadest, panaskan kemudian saring
perlahan-lahan dengan adukan yang konstan tambahkan
larutan sitrat karbonat. Bersihkan seluruh CuSO4 dengan aquadest dan tambahkan
aquadest hingga mencapai volume 1000 ml
• masukkan 2,5 ml reagen benedict kedalam tabung
reaksi
• tambaahkan 0,25 ml (4 tetes) urine dan campurkan
• letakkan dalam penangas air mendidih selama 2-3
menit
• angkat dan langsung baca
No. Warna yang terjadi simbol Jumlah glukosa
yang terkandung dalam urin
1 Biru tidak ada endapan (-) 0,0 – 0,1 g/dl
2 Hijau dengan endapan kuning (+) 0,5 – 1,0 g/dl
3 Kuning (++) 1,0 – 1,5 g/dl
4 Orange (+++) 1,5 – 2,5 g/dl
5 Merah (++++) 2,5 – 4,0 g/dl
2. Glucotest strip
• celupkan strip ke dalam urin selama 30 detik
• baca hasil tersebut dengan membandingkan warna
yang didapat dengan warna standard
HASIL :
Pada dua metode ini, sampel urine tidak menunjukkan
gejala glukosuria. Dan urine sampel ini normal.
PEMBAHASAN :
Di dalam darah kadang terdapat jumlah glukosa yang
berlebihan karena kerja hormon insulin yang tidak sempurna yang disebut dengan
diabetes melitus. Keadaan demikian maka ginjal tidak bisa mempertahankan kadar
glukosa tersebut. Ginjal meloloskan masuk kedalam tubulus ginjal sehingga urine
yang dihasilkan akan mengandung gula.
Hal tersebutlah yang menyebabkan glukosuria.
Glukosuria atau glikosuria adalah ekskresi glukosa ke dalam urin. Seharusnya
air seni tidak mengandung glukosa, karena ginjal akan menyerap glukosa hasil
filtrasi kembali ke dalam sirkulasi darah. Hampir dapat dipastikan bahwa
penyebab glikosuria adalah simtoma hiperglisemia yang tidak mendapatkan
perawatan dengan baik, walaupun gangguan instrinsik pada ginjal kadang-kadang juga
dapat menginduksi glikosuria. Simtoma ini disebut glikosuria renal dan sangat
jarang terjadi.
Glikosuria akan menyebabkan dehidrasi karena air
akan terekskresi dalam jumlah banyak ke dalam air seni melalui proses yang
disebut diuresis osmosis.
Metode pemeriksaan glukosa urin yang berdasarkan
reaksi reduksi banyak macamnya, tetapi metode benedict dengan menggunakan
reagen kuprisulfat yang sampai saat ini masih banyak dipakai di laboratorium
sederhana untuk memeriksa glukosa urin.
CuSO4 + zat (red) Cu2O + zat (oks)
Hasil pemeriksaan bersifat kualitatif sehingga hanya
digunakan untuk pemeriksaan penyaring saja. Yang hanya bisa dinilai hanyalah
dari segi warna dan adanya endapan glukosa atau tidak.
Pada hasil praktikum uji glukosa pada urine ini,
tidak menunjukkan gejala atau terdapat nya glukosa pada urine sampel. Hal ini
menandakan urine sampel bersifat normal. Dan glukosa dalam darah tidak berlebih
hingga tidak masuk atau di loloskan ke dalam urine.
Faktor yang Dapat Mempengaruhi Hasil laboratorium
• Penggunaan obat-obatan tertentu
• Stress (fisik, emosional), demam, infeksi, trauma,
tirah baring, obesitas dapat meningkatkan kadar glukosa darah.
• Aktifitas berlebihan dan muntah dapat menurunkan
kadar glukosa darah. Obat hipoglikemik dapat menurunkan kadar glukosa darah.
• Usia. Orang lansia memiliki kadar glukosa darah
yang lebih tinggi. Sekresi insulin menurun karena proses penuaan.
KESIMPULAN :
1. Metoda Benedict
Berdasarkan percobaan yang dilakukan diperoleh warna
yang terjadi saat benedict ditetesi urin dan dipanaskan adalah berwarna biru
kehijauan serta tidak didapatkan endapan atau sampel jernih. Ini berarti urin
tersebut tidak mengandung glukosa.
2. Metoda glucotest strip
Bedasarkan percobaan yang dilakukan didapatkan warna
strip biru setelah dicelupkan ke dalam urin. Strip tersebut lalu dilihat pada
parameter indikator. Warna yang terbentuk menunjukkan angka 0 (normal), ini
berarti urin tersebut tidak mengandung glukosa.
DAFTAR
PUSTAKA
Baron, D.N, 1990, Patologi Klinik, Ed IV, Terj.
Andrianto P dan Gunakan J, Penerbit EGC, Jakarta.
Depkes, 1991, Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium
Puskesmas,Jakarta,Depkes
Guyton, A.C, 1983, Buku Teks Fisiologi Kedokteran,
edisi V, bagian 2, terjemahan Adji Dharma et al.,E.G.C., Jakarta.
Poedjiadi, Supriyanti, 2007, Dasr-Dasar Biokimia,
Bandung, UI Press
Toha, 2001, Biokimia, Metabolisme Biomolekul,
Bandung, Alfabeta
No comments:
Post a Comment