BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem pencernaan makanan
berhubungan dengan penerimaan makanan dan mempersiapkannya untuk di proses oleh
tubuh. Makanan adalah tiap zat atau bahan yang dapat digunakan dalam
metabolisme guna memperoleh bahan-bahan untuk memperoleh tenaga atau energi.
Selama dalam proses pencernaan makanan dihancurkan menjadi zat-zat sederhana
dan dapat diserap oleh usus, kemudian digunakan oleh jaringan tubuh.
Berbagai perubahan sifat
makanan terjadi karena sintesis berbagai enzim yang terkandung dalam berbagai
cairan pencernaan. Setiap enzim mempunyai tugas khusus dan bekerja atas satu
jenis makanan dan tidak mempunyai pengaruh terhadap jenis makanan lainnya. Agar
makan itu berguna bagi tubuh, maka makanan itu harus di distribusi oleh darah
sampai pada sel-sel di seluruh tubuh Sistem pencernaan terdiri atas suatu
saluran panjang yaitu saluran cerna yang dimulai dari mulut sampai anus, dan
kelenjar-kelenjar yang berhubungan yang letaknya di luar saluran.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu system pencernaan ?
2. Bagaimana Proses Pencernaan
dalam tubuh ?
3. Apa saja alat-alat
pencernaan dalam tubuh ?
4. Gangguan apa saja yang
berhubungan dengan system pencernaan ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Sistem pencernaan (digestive
system) merupakan sistem organ dalam hewan multisel yang menerima makanan,
mencernanya menjadi energi dan nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut
melalui dubur. Sistem pencernaan antara satu hewan dengan yang lainnya bisa sangat
jauh berbeda. Pada dasarnya sistem pencernaan makanan dalam tubuh manusia
terjadi di sepanjang saluran pencernaan dan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu
proses penghancuran makanan yang terjadi dalam mulut hingga lambung.Selanjutnya
adalah proses penyerapan sari - sari makanan yang terjadi di dalam usus.
Kemudian proses pengeluaran sisa - sisa makanan melalui anus.
B. Proses Pencernaan
Proses pencernaan makanan
berlangsung di dalam saluran pencernaan makanan. Proses tersebut di mulai dari
rongga mulut. Di dalam rongga mulut makanan dipotong-potong oleh gigi seri dan
dikunyah oleh gigi geraham , sehingga makanan menjadi bagian-bagian yang lebih
kecil. Walaupun zat makanan telah dilumatkan atau dihancurkan dalam rongga
mulut tetapi belum dapat diserap oleh dinding usus halus. Karena itu, makanan
harus diubah menjadi sari makanan yang mudah larut. Dalam prose ini dibutuhkan
beberapa enzim pencernaan yang dikeluarkan oleh kelenjar pencernaan.
Waktu pencernaan, makanan
tersebut diproses menjadi sari makanan yang diserap oleh jonjot usus dan sisa
makanan dikeluarkan melalui poros usus. Sari makanan hanya dapat diserap dan
diangkut oleh darah dan getah bening bila larut di dalamnya, kemudian makanan
tersebut didistribusikan ke bagian tubuh yang membutuhkannya.
Berdasarkan prosesnya,
pencernaan makanan dapat dibedakan menjadi dua macam seperti berikut.
1. Proses mekanis, yaitu
pengunyahan oleh gigi dengan dibantu lidah serta peremasan yang terjadi di
lambung.
2. Proses kimiawi, yaitu
pelarutan dan pemecahan makanan oleh enzim-enzim pencernaan dengan mengubah
makanan yang ber-molekul besar menjadi molekul yang berukuran kecil.
Makanan mengalami proses
pencernaan sejak makanan berada di dalam mulut hingga proses pengeluaran
sisa-sisa makanan hasil pencernaan. Adapun proses pencernaan makanan meliputi
hal-hal berikut.
1. Ingesti: pemasukan makanan
ke dalam tubuh melalui mulut.
2. Mastikasi: proses mengunyah
makanan oleh gigi.
3. Deglutisi: proses menelan
makanan di kerongkongan.
4. Digesti: pengubahan makanan
menjadi molekul yang lebih sederhana dengan bantuan enzim, terdapat di lambung.
5. Absorpsi: proses
penyerapan, terjadi di usus halus.
6. Defekasi: pengeluaran sisa
makanan yang sudah tidak berguna untuk tubuh melalui anus.
C. Alat Pencernaan
Alat-alat pencernaan
terdiri dari saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan
terdiri atas mulut, pharynk, esophagus, lambung, usus halus, usus besar, dan
berakhir pada anus. Sedangkan kelenjar pencernaan terdiri atas kelenjar ludah,
kelenjar lambung, kelenjar usus, hati, dan pankreas.
1. Rongga Mulut
Di dalam mulut terdapat
alat-alat yang membantu dalam proses pencernaan, yaitu: gigi, lidah, dan
kelenjar ludah (air liur). Dan di dalam ronggga mulut, makanan menggalami
pencerrnaan secara mekanik dan kimiawi.
a. Gigi
Gigi berfungsi untuk
mengunyah makanan sehingga makanan menjadi halus. Gigi dapat di bedakan atas
empat macam yaitu, Gigi seri, gigi taring, gigi geraham depan dan gigi geraham
belakang. Secara umum, gigi manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu: Mahkota
gigi (korona), leher gigi (kolum), dan akar gigi (radiks). Setiap gigi memiliki
bentuk mahkota gigi yang berbeda-beda. Gigi seri berbentuk seperti pahat
runcing, dan gigi geraham berbentuk agak silindris dengan permukaan lebar dan
datar berlekuk-lekuk dan gigi taring yang berbentuk seperti pahat runcing
berfungsi untuk merobek makanan. Sedangkan gigi geraham dengan permukaan yang
lebar dan datar berlekuk-lekuk, berfungsi untuk mengunyah.
Leher gigi merupakan bagian
gigi yang terlindung dalam gusi, sedangkan akar gigi merupakan bagian gigi yang
tertanam di dalam rahang. Tulang gigi tersusun atas zat dentin. Sum-sum gigi
(pulpa), merupakan rongga gigi yang di dalamnya terdapat serabut saraf dan
pembuluh_pembuluh darah.
Pada bayi, gigi sudah mulai
tumbuh pada usia 6 bulan. Gigi pertama yang tumbuh disebut gigi susu. Gigi
anak-anak pada usia 6 tahun jumlahnya 20 yang terdiri dari 8 gigi seri, 4 gigi
taring, dan 8 gigi geraham.
b. Lidah
Lidah berfungsi untuk
mengaduk makanan di dalam rongga mulut dan membantu mendorong makanan ( proses
penelanan ). Selain itu lidah juga berfungsi sebagai alat pengecap yang dapat
merasakan manis, asin, pahit, dan asam.
c. Kelenjar Ludah
Kelenjar ludah menghasilkan
ludah atau air liur ( saliva ). Kelenjar ludah dalam rongga mulut ada 3 pasang,
yaitu:
Ø Kelenjar parotis, terletak
di bawah telinga
Ø Kelenjar submandibulavis,
terletak di rahang bawah
Ø Kelenjar sublingualis,
terletak di bawah lidah.
Ludah berfungsi untuk
memudahkan penelanan makanan. Selain itu, lidah juga melindungi selaput mulut
terhadap panas, dingin, asam, dan basah. Rangsang untuk pembentukan saliva (air
liur) adalah: adanya makanan dalam mulut, dan melihat, mencium dan memikirkan
makanan. Fungsi saliva (ludah) adalah untuk membantu pembentukan bolus makanan
dan berperan sebagai pelumas untuk mempermudah menelan.
Didalam ludah terdapat
enzim ptialin ( amilase ). Enzim ptialin berfungsi mengubah makanan dalam mulut
yang mengandung zat karbohidrat ( amilum ) menjadi gula sederhana ( maltosa ).
Maltosa mudah di cerna oleh organ pencernaan selanjutnya. Enzim ptialin bekeja
dengan baik pada PH antara 6, 8-7 dan suhu 37oC.
2. Tekak (pharynk)
Pharynk merupakan
pertemuan saluran pernafasan antara rongga hidung dengan tenggorokan dan
saluran pencernaan antara rongga mulut dan kerongkongan. Lubang yang menuju
tenggorokan disebut glotis dan ditutup oleh klep yang disebut epiglotis pada
waktu proses menelan.
3. Kerongkongan (esophagus)
Pangkal saluran pencernaan,
berbentuk sebuah tabung berotot yang panjangnya 25 cm, dimulai dari farink
sampai pintu masuk kardiak lambung di bawah. Esophagus memiliki fungsi sebagai
pen ghantar makanan dari farynk ke lambung.
Kerongkongan ( esofagus )
merupakan saluran penghubung antara rongga mulut dengan lambung, kerongkongan
berfungsi sebagai jalan makanan yang telah di kunyah menuju lambung, jadi, pada
kerongkongan tidak terjadi proses pencernaan.
Otot kerongkongan dapat
berkontraksi secara bergelombang sehingga dapat mendorong makanan masuk ke
dalam lambung, gerak kerongkongan ini di sebut gerak peristalis. Gerak
peristalis merupakan gerak kembang kempis kerongkongan untuk mendorong makanan
ke dalam lambung.
4. Lambung
Lambung ( fentrikulus )
merupakan kantung besar yang terletak disebelah kiri rongga perut. Lambung
sering pula disebut perut besar atau kantung nasi.
Lambung terdiri dari 3
bagian yaitu bagian atas ( kardiak ), bagian tengah yang membulat ( fundus ),
dan bagian bawah ( pilorus ). Kardiak berdekatan dengan hati dan berhubungan
dengan kerongkongan. Pilorus berhubungan langsung dengan usus dua belas jari. Di
bagian ujung kardiak dan pilorus terdapat klep ( sfigter ) yang mengatur masuk
dan keluarnya makanan ke dalam dari lambung.
Dinding lambung terdiri
dari otot yang tersusun melingkar, memanjang, dan menyerong. Otot-otot tersebut
menyebabkan lambung berkontraksi. Akibatnya kontraksi otot lambung, makanan
teraduk dengan baik sehingga akan bercampur merata dengan getah lambung. Hal
ini menyebabkan makanan didalam lambung berbentuk seperti bubur.
Dinding lambung mengandung
sel-sel kelenjar yang berfungsi sebagai kelenjar pencernaan yang menghasilkan
getah lambung. Getah lambung mengandung air lendir ( musin ), asam lambung,
enzim renim, dan enzim pepsinogen. Getah lambung bersifat asam karena banyak
mengandung asam lambung.
Asam lambung berfungsi
membunuh kuman penyakit atau bakteri yang masuk bersama makanan dan juga
berfungsi untuk mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin-pepsin yang berfungsi
memecah protein menjadi pepton dan proteosa-enzim renin berfungsi menggumpalkan
protein susu (kasein) yang terdapat dalam susu. Adanya enzim renin dan enzim
pepsin menunjukkan bahwa didalam lambung terjadi proses pencernaan kimiawi-
selain menghasilkan enzim pencernaaan, dinding lambung juga menghasilkan hormon
gastrin. Hormon gastrin berfungsi untuk mengeluarkan (sekresi) getah lambung.
Lambung dapat meregang
sampai dapat menyimpan 2 liter cairan, makanan umumnya dapat bertahan 3-4 jam
didalam lambung. Dari lambung , makanan sedikit demi sedikit keluar menuju usus
12 jari melalui sfingter pilorus.
5. Hati
Fungsi hati yang pertama
yaitu sebagai pemproduksi cairan empedu untuk menetralkan racun-racun yang
masuk ke dalam tubuh. Hati juga memegang peranan penting pada metabolisme tiga
bahan makanan yang dikirimkan oleh vena porta setelah diabsorbsi oleh tubuh
dari usus, bahan makanan tersebut adalah karbohidrat, protein, dan lemak.
6. Usus Halus
Usus halus merupakan
saluran berkelok-kelok yang panjangnya sekitar 6–8 meter, lebar 25 mm dengan
banyaklipatan yang disebut vili atau jonjot-jonjot usus. Vili ini berfungsi
memperluas permukaan usus halus yang berpengaruh terhadap proses penyerapan
makanan. Usus halus terbagi menjadi tiga bagian seperti berikut:
a. Duodenum (usus 12 jari),
panjangnya ± 25 cm,
Duodenum adalah bagian
pertama usus halus, bagian usus ini merupakan tempat bermuaranya saluran getah
pankreas dan getah empedu. Saluran empedu dan saluran pankreas masuk ke dalam
usus dua belas jari pada suatu lobang yang disebut ampula hepatopankreatika
atau ampula pateri. Saluran empedu menghasilkan getah empedu (bilus) yang
dihasilkan oleh hati. Getah empedu berfungsi untuk mengemulsikan lemak.
Pankreas yang terdapat di bawah lambung menghasilkan getah pankreas, getah
pankreas menghasilkan enzim pencernaan seperti amilase, tritsin, dan lipase
b. Jejunum (usus kosong),
panjangnya ± 7 m,
Pada bagian inilah
pencernaan diselesaikan, pada usus ini juga terjadi pencernaan secara kimiawi.
Kelenjar-kelenjar ususnya menghasilkan enzim pencernaan, seperti yang
dihasilkan pankreas.
c. Ileum (usus penyerapan),
panjangnya ± 1 m.
Pada bagian ini, sari-sari
makanan hasil proses pencernaan diserap, makanan akan diserap oleh jonjot usus.
Asam amino dan glukosa, vitamin, garam mineral, akan diangkut oleh kapiler
darah, sedangkan asam lemak dan gliserol akan diangkut oleh pembuluh kil
(pembuluh getah bening). Pembuluh getah bening usus menuju ke pembuluh balik
besar bawah selangka.
Setiap hari, disekresikan
kira-kira 2000 cc getah usus dari sel usus menuju, lumeu usus. Getah usus halus
ini berwarna kuning jernih, dan mengandung berbagai enzim misalnya peptidase,
maltase, sukrase, ribonuklease, dll. Sebagian enzim-enzim ini terdapat pada
permukaan sel epitel sehingga pencernaan makanan berlangsung pada permukaan
atau di dalam sel-sel epitel. Sekresi getah usus halus dikontrol oleh reflek
otonom, hormon sekretin, dan kolesistokinin.
Fungsi usus halus adalah
mencerna, dan menyerap “khime” dari lambung. Isinya yang cair digerakkan oleh
serangkaian gerakan peristaltik yang cepat. Di samping gerakan peristaltik ada
juga gerakan lain yaitu gerakan sexmental, gerakan yang memisahkan beberapa
segmen usus satu dari yang lain. Dua cairan pencerna masuk ke usus duabelas
jari (duodenum) melalui saluran-saluran, empedu dan getah pangkreas (dari
pangkreas). Empedu digunakan untuk pencernaan lemak yang dipecahkan dalam
bagian-bagian kecil, dengan demikian membantu kerja lipase. Empedu ini sifatnya
alkalis dan membuat makanan yang keluar dari lambung yang asam menjadi netral.
Garam empedu mengurangi ketegangan permukaan isi usus dan membantu membentuk emulsi
dari lemak yang dimakan.
Pencernaan makanan yang
terjadi di usus halus lebih banyak bersifat kimiawi. Berbagai macam enzim
diperlukan untuk membantu proses pencernaan kimiawi ini. Hati, pankreas, dan
kelenjar-kelenjar yang terdapat di dalam dinding usus halus mampu menghasilkan
getah pencernaan. Getah ini bercampur dengan kimus di dalam usus halus. Getah
pencernaan yang berperan di usus halus ini berupa cairan empedu, getah
pankreas, dan getah usus.
a. Cairan Empedu
Cairan empedu berwarna
kuning kehijauan, 86% berupa air, dan tidak mengandung enzim. Akan tetapi,
mengandung mucin dan garam empedu yang berperan dalam pencernaan makanan.
Cairan empedu tersusun atas bahan-bahan berikut:
1) Air, berguna sebagai
pelarut utama.
2) Mucin, berguna untuk
membasahi dan melicinkan duodenum agar tidak terjadi iritasi pada dinding usus.
3) Garam empedu, mengandung
natrium karbonat yang mengakibatkan empedu bersifat alkali. Garam empedu juga
berfungsi menurunkan tegangan permukaan lemak dan air (mengemulsikan lemak).
Cairan ini dihasilkan oleh
hati. Hati merupakan kelenjar pencernaan terbesar dalam tubuh yang beratnya ± 2
kg. Dalam sistem pencernaan, hati berfungsi sebagai pembentuk empedu, tempat
penimbunan zat-zat makanan dari darah dan penyerapan unsur besi dari darah yang
telah rusak. Selain itu, hati juga berfungsi membentuk darah pada janin atau
pada keadaan darurat, pembentukan fibrinogen dan heparin untuk disalurkan ke
peredaran darah serta pengaturan suhu tubuh.
Empedu mengalir dari hati
melalui saluran empedu dan masuk ke usus halus. Dalam proses pencernaan ini,
empedu berperan dalam proses pencernaan lemak, yaitu sebelum lemak dicernakan,
lemak harus bereaksi dengan empedu terlebih dahulu. Selain itu, cairan empedu
berfungsi menetralkan asam klorida dalam kimus, menghentikan aktivitas pepsin
pada protein, dan merangsang gerak peristaltik usus.
b. Getah Pankreas
Getah pankreas dihasilkan
di dalam organ pankreas. Pankreas ini berperan sebagai kelenjar eksokrin yang
menghasilkan getah pankreas ke dalam saluran pencernaan dan sebagai kelenjar
endokrin yang menghasilkan hormone insulin. Hormon ini dikeluarkan oleh sel-sel
berbentuk pulau- pulau yang disebut pulau-pulau langerhans. Insulin ini
berfungsi menjaga gula darah agar tetap normal dan mencegah diabetes melitus.
Getah pankreas ini dari
pankreas mengalir melalui saluran pankreas masuk ke usus halus. Dalam pancreas
terdapat tiga macam enzim, yaitu lipase yang membantu dalam pemecahan lemak,
tripsin membantu dalam pemecahan protein, dan amylase membantu dalam pemecahan
pati.
c. Getah Usus
Pada dinding usus halus
banyak terdapat kelenjar yang mampu menghasilkan getah usus. Getah usus
mengandung enzim-enzim seperti berikut.
1. Sukrase, berfungsi membantu
mempercepat proses pemecahan sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.
2. Maltase, berfungsi membantu
mempercepat proses pemecahan maltosa menjadi dua molekul glukosa.
3. Laktase, berfungsi membantu
mempercepat proses pemecahan laktosa menjadi glukosa dan galaktosa.
4. Enzim peptidase, berfungsi
membantu mempercepat proses pemecahan peptida menjadi asam amino.
Monosakarida, asam amino,
asam lemak, dan gliserol hasil pencernaan terakhir di usus halus mulai
diabsorpsi atau diserap melalui dinding usus halus terutama di bagian jejunum
dan ileum. Selain itu vitamin dan mineral juga diserap. Vitamin-vitamin yang
larut dalam lemak, penyerapannya bersama dengan pelarutnya, sedangkan vitamin
yang larut dalam air penyerapannya dilakukan oleh jonjot usus.
Proses penyerapan di usus
halus ini dilakukan oleh villi (jonjot-jonjot usus). Di dalam villi ini
terdapat pembuluh darah, pembuluh kil (limfa), dan sel goblet. Di sini asam
amino dan glukosa diserap dan diangkut oleh darah menuju hati melalui
sistem vena porta hepatikus, sedangkan asam lemak bereaksi terlebih dahulu dengan garam empedu membentuk emulsi lemak. Emulsi lemak bersama gliserol diserap ke
dalam villi. Selanjutnya di dalam villi, asam lemak dilepaskan, kemudian asam lemak mengikat gliserin dan membentuk lemak kembali. Lemak yang terbentuk masuk ke tengah villi, yaitu ke dalam pembuluh kil (limfa).
sistem vena porta hepatikus, sedangkan asam lemak bereaksi terlebih dahulu dengan garam empedu membentuk emulsi lemak. Emulsi lemak bersama gliserol diserap ke
dalam villi. Selanjutnya di dalam villi, asam lemak dilepaskan, kemudian asam lemak mengikat gliserin dan membentuk lemak kembali. Lemak yang terbentuk masuk ke tengah villi, yaitu ke dalam pembuluh kil (limfa).
Melalui pembuluh kil,
emulsi lemak menuju vena sedangkan garam empedu masuk ke dalam darah menuju
hati dan dibentuk lagi menjadi empedu. Bahan-bahan yang tidak dapat diserap di
usus halus akan didorong menuju usus besar (kolon).
7. Usus Besar
Usus besar atau kolon
memiliki panjang ± 1 meter dan terdiri atas kolon ascendens, kolon transversum,
dan kolon descendens. Di antara intestinum tenue (usus halus) dan intestinum
crassum (usus besar) terdapat sekum (usus buntu).
Pada ujung sekum terdapat tonjolan kecil yang disebut appendiks (umbai cacing) yang berisi massa sel darah putih yang berperan dalam imunitas.
Pada ujung sekum terdapat tonjolan kecil yang disebut appendiks (umbai cacing) yang berisi massa sel darah putih yang berperan dalam imunitas.
Makanan yang tidak dicerna
diusus halus, misalnya selulosa bersama dengan lendir akan menuju keusus, besar
menjadi fases. Dalam usus besar juga terdapat bakteri escherichia coli. Bakteri
ini membantu dalam proses pembusukan sisa makanan. Bakteri e.coli juga
menghasilkan vitamin K. Vitamin K berperan penting dalam proses pembekuan darah.
Usus besar terdiri dari
bagian yang naik, yaitu mulai dari usus buntu (apendiks), bagian mendatar,
bagian menurun, dan berakhir pada anus. Didalam usus besar fases di dorong
secara teratur dan lambat oleh gerakan pristalsis menuju ke rektum (poros
usus). Gerakan pristalsis dikendalikan oleh otot polos (otot tak sadar). Pada
saat buang air besar otot sfingeres dianus di pengaruhi oleh otot lurik (otot
sadar) jadi, proses defekasi (buang air besar) dilakukan dengan adanya
konstrasi otot dinding perut yang di ikuti dengan mengendurnya otot sfingeter
anus dan konstraksi kolon serta rektum, akibatnya feses dapat terdorong keluar
anus.
Defekasi diawali dengan
terjadinya penggelembungan bagian rektum akibat suatu rangsang yang disebut
refleks gastrokolik. Kemudian akibat adanya aktivitas kontraksi rektum dan otot
sfinkter yang berhubungan mengakibatkan terjadinya defekasi. Di dalam usus
besar ini semua proses pencernaan telah selesai dengan sempurna.
D. Gangguan Pada Sistem
Pencernaan
Adapun gangguan yang ditimbulkan
oleh system pencernaan adalah sebagai berikut:
1. Diare : feces encer karena
adanya gangguan absorbsi air
2. Sembelit (konstipasi) feces
menjadi lebih padat dan sukar keluar sehingga nmenimbulkan rasa sakit pada
perut .
3. Peritonitis : rasa sakit
pada saluran pencernaan kaerena terjadi peradangan selaput perut (peritonium).
4. Apendisitas : terjadinya
peradangan appendiks (umbai cacing)
5. Kolik : timbulnya perasaan
nyeri karena salah cerna
6. Ulkus : lukanya dinding
lambung akibat produksi HCL yang berlebih sehingga bila kena gesekan
menimbulkan rasa nyeri.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sistem pencernaan (digestive
system) merupakan sistem organ dalam hewan multisel yang menerima makanan,
mencernanya menjadi energi dan nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut
melalui dubur. Proses pencernaan makanan berlangsung di dalam saluran
pencernaan makanan. Proses tersebut di mulai dari rongga
mulut. Berdasarkan prosesnya, pencernaan makanan dapat dibedakan menjadi
dua macam seperti berikut: Proses mekanis, yaitu pengunyahan oleh gigi dengan
dibantu lidah serta peremasan yang terjadi di lambung. Proses kimiawi, yaitu
pelarutan dan pemecahan makanan oleh enzim-enzim pencernaan dengan mengubah
makanan yang ber-molekul besar menjadi molekul yang berukuran kecil.
Alat-alat pencernaan
terdiri dari saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan
terdiri atas mulut, pharynk, esophagus, lambung, usus halus, usus besar, dan
berakhir pada anus. Sedangkan kelenjar pencernaan terdiri atas kelenjar ludah,
kelenjar lambung, kelenjar usus, hati, dan pankreas. Adapun gangguan-gangguan
yang disebabkan oleh system pencernaan adalah: diare, sembelit, peritonitis,
apendisitas, kolik, dan ulkus.
B. Kritik dan Saran
Tiada kesempurnaan di dunia
ini, kami sangat mengharapkan kritik maupun saran dari makalah ini tujuannya
hanyalah demi kesempurnaan. Dan semoga makalah yang telah kami susun bermanfaat
bagi kita semua, Amien.
No comments:
Post a Comment