KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita sehingga penyusunan
makalah ini dapat selesai.
Telah disusun sebuah makalah tentang “LUKA BAKAR”
Makalah ini jauh dari kesempurnaan,maka dari itu
dalam rangka penyempurnaan dan perbaikkan,penyusun sangat mengharapkan masukkan
dari pembaca,baik berupa sumbangan pikiran maupun kritik dan saran perbaikkan.
Terima kasih kepada pembimbing,teman-teman,serta
semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini.Semoga berguna bagi kita
semua.
Garut,17
Desember 2015
Penyusun
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar................................................................................................. i
Daftar
Isi........................................................................................................... ii
BAB1.PENDAHULUAN................................................................................ 1
BAB
2.TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 2
a.
Defenisi................................................................................................... 1
b.
Etiologi.................................................................................................... 1
c.
Patofisiologi............................................................................................ 3
d.
Klasifikasi................................................................................................ 4
e.
Penatalaksanaan.................................................................................... 12
f.
Pemeriksaan
penunjang......................................................................... 17
g.
Komplikasi
............................................................................................ 17
h.
Prognosis
.............................................................................................. 19
BAB
3.PENUTUP.......................................................................................... 23
A.Kesimpulan............................................................................................ 23
B.Kritik...................................................................................................... 23
Daftar
Pustaka...................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
Luka bakar merupakan
cedera yang cukup sering dihadapi oleh dokter, jenis yang berat memperlihatkan
morbiditas dan derajat cacat yang relatif tinggi dibandingkan dengan cedera
oleh sebab lain . Biaya yang dibutuhkan juga cukup mahal untuk penanganannnya.
Penyebab luka bakar selain karena api ( secara langsung ataupun tidak langsung
), juga karena pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik maupun bahan kimia.
Luka bakar karena api atau akibat tidak langsung dari api ( misalnya tersiram
panas ) banyak terjadi pada kecelakaan rumah tangga.
( Sjamsuhidajat,
2005 )
Dengan memperhatikan
prinsip- prinsip dasar resusitasi pada trauma dan penerapannya pada saat yang
tepat diharapkan akan dapat menurunkan sekecil mungkin angka- angka tersebut
diatas. Prinsip- prinsip dasar tersebut meliputi kewaspadaan akan terjadinya
gangguan jalan nafas pada penderita yang mengalami trauma inhalasi,
mempertahankan hemodinamik dalam batas normal dengan resusitasi cairan,
mengetahui dan mengobati penyulit- penyulit yang mungkin terjadi akibat trauma
listrik, misalnya rabdomiolisis dan disritmia jantung. Mengendalikan suhu tubuh
dan menjuhkan / mengeluarkan penderita dari lingkungan trauma panas juga
merupakan prinsip utama dari penanganan trauma termal. ( American College of
Surgeon Committee on Trauma, 1997)
Kulit adalah organ
kompleks yang memberikan pertahanan tubuh pertama terhadap kemungkinan
lingkungan yang merugikan. Kulit melindungi tubuh terhadap infeksi, mencegah
kehilangan cairan tubuh, membantu mengontrol suhu tubuh, berfungsi sebagai
organ eksretori dan sensori, membantu dalam proses aktivasi vitamin D, dan
mempengaruhi citra tubuh. Luka bakar adalah hal yang umum, namun merupakan
bentuk cedera kulit yang sebagian besar dapat dicegah. ( Horne dan Swearingen,
2000 )
The
National Institute of Burn Medicine yang mengumpulkan data- data statistik dari
berbagai pusat luka bakar di seluruh AS mencatat bahwa sebagian besar pasien
(75%) merupakan korban dari perbuatan mereka sendiri. Tersiram air mendidih
pada anak- anak yang baru belajar berjalan, bermain- main dengan korek api pada
usia anak sekolah, cedera karena arus listrik pada remaja laki- laki,
penggunaan obat bius, alkohol serta rokok pada orang dewasa semuanya ini turut
memberikan kontribusi pada angka statistik tersebut (Brunner&Suddarth,2001).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.DEFINISI
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan
kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan
radiasi ( Moenajat, 2001).
B.ETIOLOGI
Menurut dr Sunarso
K, Sp B (2009) panas bukan merupakan satu-satunya penyebab dari luka bakar,
beberapa jenis bahan kimia dan arus listrik juga bisa menyebabkan terjadinya
luka bakar. Biasanya bagian tubuh yang terbakar adalah kulit, tetapi luka bakar
juga bisa terjadi pada jaringan di bawah kulit, bahkan organ dalampun bisa
mengalami luka bakar meskipun kulit tidak terbakar.
Sebagai contoh, meminum
minuman yang sangat panas atau zat kaustik (misalnya asam) bisa menyebabkan
luka bakar pada kerongkongan dan lambung. Menghirup asap dan udara panas akibat
kebakaran gedung bisa menyebabkan terjadinya luka bakar pada paru-paru. Luka
bakar listrik bisa disebabkan listrik yang dihasilkan oleh suatu arus listrik
yang mengalir dari sumberlistrik ke dalam tubuh manusia.
Resistensi (kemampuan tubuh untuk menghentikan atau memperlambat aliran listrik) yang tinggi terjadi pada kulit yang bersentuhan dengan sumber listrik, karena itu pada kulit tersebut banyak energi listrik yang diubah menjadi panas sehingga permukaannya terbakar. Luka bakar listrik juga menyebabkan kerusakan jaringan dibawah kulit yang sangat berat. Ukuran dan kedalamannya bervariasi dan bisa menyerang bagian tubuh yang jauh lebih luas daripada bagian kulit yang terluka. Kejutan listrik yang luas bisa menyebabkan kelumpuhan pada sistem pernafasan dan gangguan irama jantung sehingga denyut jantung menjadi tidak beraturan. Luka bakar kimia bisa disebabkan oleh sejumlah iritan dan racun, termasuk asam dan basa yang kuat, fenol dan kresol (pelarut organik), gas mustard dan fosfat.
Resistensi (kemampuan tubuh untuk menghentikan atau memperlambat aliran listrik) yang tinggi terjadi pada kulit yang bersentuhan dengan sumber listrik, karena itu pada kulit tersebut banyak energi listrik yang diubah menjadi panas sehingga permukaannya terbakar. Luka bakar listrik juga menyebabkan kerusakan jaringan dibawah kulit yang sangat berat. Ukuran dan kedalamannya bervariasi dan bisa menyerang bagian tubuh yang jauh lebih luas daripada bagian kulit yang terluka. Kejutan listrik yang luas bisa menyebabkan kelumpuhan pada sistem pernafasan dan gangguan irama jantung sehingga denyut jantung menjadi tidak beraturan. Luka bakar kimia bisa disebabkan oleh sejumlah iritan dan racun, termasuk asam dan basa yang kuat, fenol dan kresol (pelarut organik), gas mustard dan fosfat.
Menurut A.A.GN.
Asmarajaya (2003), berdasarkan perjalanan penyakitnya luka bakar dibagi menjadi
3 fase, yaitu :
1. Fase akut Pada fase ini masalah yang ada
berkisar pada gangguan saluran napas karena adanya cedera inhalasi dan gangguan
sirkulasi. Pada fase ini terjadi gangguan keseimbangan sirkulasi cairan dan
elektrolit akibat cedera termis yang bersifat sistemik.
2. Fase sub akut Fase ini berlangsung setelah
syok berakhir. Luka terbuka akibat kerusakan jaringan (kulit dan jaringan
dibawahnya) menimbulkan masalah inflamasi, sepsis dan penguapan cairan tubuh
yang disertai panas / energi.
3. Fase lanjut Fase ini
berlangsung setelah terjadi penutupan luka sampai terjadi maturasi. Masalah
pada fase ini adalah timbulnya penyulit dari luka bakar berupa parut
hipertrofik, kontraktur, dan deformitas lainnya.
C.
PATOFISIOLOGI
Menurut Iswinarno (2003)
luka bakar mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga air,
klorida dan protein tubuh akan keluar dari dalam sel dan menyebabkan edema yang
dapat berlanjut pada keadaan hipovolemia dan hemokonsentrasi. Burn shock (
shock Hipovolemik ) merupakan komplikasi yang sering terjadi, manisfestasi
sistemik tubuh terhadap kondisi ini adalah :
1. Respon kardiovaskuler
Perpindahan cairan dari intravaskuler ke
ekstravaskuler melalui kebocoran kapiler mengakibatkan kehilangan Na, air dan
protein plasma serta edema jaringan yang diikuti dengan penurunan curah
jantung. Hemokonsentrasi sel darah merah, penurunan perfusi pada organ mayor,
dan edema menyeluruh.
2. Respon Renalis
Dengan menurunnya volume inravaskuler maka aliran ke ginjal dan GFR
menurun mengakibatkan keluaran urin menurun dan bisa berakibat gagal ginjal
3. Respon Gastro Intestinal
Respon umum pada luka bakassr > 20 % adalah penurunan aktivitas
gastrointestinal. Hal ini disebabkan oleh kombinasi efek respon hipovolemik dan
neurologik serta respon endokrin terhadap adanya perlukaan yang luas.
Pemasangan NGT mencegah terjadinya distensi abdomen, muntah dan aspirasi.
4. Respon Imonologi
Sebagian basis mekanik, kulit sebgai mekanisme pertahanan dari
organisme yang masuk. Terjadinya gangguan integritas kulit akan memungkinkan
mikroorganisme masuk kedalam luka.
Pembagian zona kerusakan jaringan menurut A.A GN. Asmarajaya SpB (2003) :
Pembagian zona kerusakan jaringan menurut A.A GN. Asmarajaya SpB (2003) :
1.Zona koagulasi yang
merupakan daerah yang langsung mengalami kerusakan ( koagulasi protein
) akibat pengaruh panas.
2.Zona statis yang merupakan daerah yang
berada langsung di luar zona koagulasi, di daerah ini terjadi kerusakan endotel
pembuluh darah disertai kerusakan trombosit dan leukosit, sehingga terjadi
gangguan perfusi ( no flow phenomena) diikuti perubahan permeabilitas kapiler
dan respon inflamasi lokal. Proses ini berlangsung selama 12- 24 jam pasca
cedera, dan mungkin berakhir dengan nekrosis jaringan.
3.Zona hiperemi yang
merupakan daerah di luar zona statis yang ikut mengalami reaksi berupa
vasodilatasi tanpa abnyak melibatkan reaksi seluler.
D. KLASIFIKASI
Untuk membantu
mempermudah penilaian dalam memberikan terapi dan perawatan, luka bakar
diklasifikasikan berdasarkan penyebab, kedalaman luka, dan keseriusan luka,
yakni :
1. Berdasarkan penyebab
a. Luka bakar karena api
Luka bakar karena api
termasuk angka kejadian yang banyak dalam masyarakat. Terutama akibat kompor
gas yang meledak, percikan api listrik atau juga akibat kelalaian saat
menyalakan lilin. Hal tersebut hanya merupakan beberapa contoh dari kejadian
luka bakar karena api. Hal yang perlu diwaspadai pada luka bakar karena api
adalah adanya kejadian cedera inhalasi, terutama jika terdapat riwayat terjebak
di dalam suatu ruangan, sehingga komplikasi yang ditimbulkan akan lebih berat.
( Poengki, 2009)
b. Luka bakar karena air
panas
Menurut dr Poengki (2009)
Luka bakar merupakan bahaya yang potensial terjadi di setiap rumah tangga, dan
banyak laporan menunjukkan luka bakar oleh karena air panas atau cairan panas
adalah jenis yang paling sering terjadi pada anak. Luka bakar pada anak 65,7%
disebabkan oleh air panas atau uap panas (scald).
Mayoritas dari luka bakar
pada anak-anak terjadi di rumah dan sebagian besar dapat dicegah. Dapur dan
ruang makan merupakan daerah yang seringkali menjadi lokasi terjadinya luka
bakar. Anak yang memegang oven, menarik taplak dimana di atasnya terdapat air
panas, minuman panas atau makanan panas. Dalamnya luka bakar tergantung pada
suhu agen penyebab luka bakar dan lamanya kontak dengan agen penyebab luka bakar
tersebut. Suhu yang kurang dari 400C dapat ditoleransi dalam periode waktu yang
lama tanpa menyebabkan luka bakar.
c. Luka bakar karena
bahan kimia
Menurut Sjamsuhidajat
(2005) luka bakar dapat disebabkan oleh asam, alkali dan hasil- hasil
pengolahan minyak. Luka bakar alkali lebih berbahaya dari asam, sebab alkali
lebih dalam merusak jaringan. Segeralah bersihkan bahan kimia tersebut dari
luka bakar. Kerusakan jaringan akibat luka bakar bahan kimia dipengaruhi oleh
lamanya kontak, konsentrasi bahan kimia dan jumlahnya. Segera lakukan irigasi
dengan air sebanyak- banyaknya, bila mungkin gunakan penyemprot air. Lakukan
tindakan ini dalam waktu 20-30 menit. Untuk luka bakar alkali, diperlukan waktu
yang lebih lama. Bila bahan kimia merupakan bubuk, sikatlah terlebih dahulu
sebelum irigasi.
Jangan memberikan bahan-
bahan penetral ( neutralizing agent) sebab reaksi kimiawi yang terjadi akibat
pemberian bahan penetral dapat menimbulkan panas dan akan memperberat kerusakan
yang terjadi. Untuk luka bakar pada mata, memerlukan irigasi terus- menerus
selama 8 jam pertama setelah luka bakar. Untuk irigasi ini dapat digunakan
kanula kecil yang dipasang pada sulcus palpebra.
d. Luka bakar karena
listrik
Dalam ATLS (1997)
kecelakaan akibat arus listrik dapat terjadi karena arus listrik mengaliri
tubuh, karena adanya loncatan arus, atau karena ledakan tegangan tinggi, antara
lain karena petir. Arus listrik menimbulkan kelainan karena rangsangan terhadap
saraf dan otot. Energi panas akibat tahanan jaringan yang dilalui arus
menyebabkan luka bakar pada jaringan tersebut. Tubuh merupakan penghantar
tenaga listrik, dan panas yang ditimbulkannya menyebabkan luka bakar pada
tubuh. Perbedaan kecepatan hilangnya panas dari jaringan tubuh superficial
dengan jaringan tubuh yang lebih dalam, menghasilkan keadaan dimana jaringan
yang lebih dalam bisa mengalami nekrosis, sedangkan kulit diatasnya bisa
terlihat normal.Rabdomiolisis menghasilkan pelepasan mioglobin yang dapat
menyebabkan kegagalan ginjal.
Penanganan harus segera
dilakukan pada penderita dengan luka bakar listrik meliputi perhatian terhadap
jalan nafas, pernafasan, pemasangan infuse, ECG, dan pemasangan kateter.
Apabila urin berwarna gelap, mungkin urin mengandung hemokhromogens. Janganlah
menunggu konfirmasi laboratorium untuk melakukan terapi terhadap mioglobinuria.
Pemberian cairan harus ditingkatkan sedemikian rupa sehingga tercapai produksi
urin sekurang- kurangnya 100 cc/ jam ( pada dewasa). Bila urin belum tampak
jernih, berikan segera 25 gr manitol dan tambahan 12,5 gr manitol pada tiap
penambahan 1 liter cairan untuk mempertahankan dieresis sejumlah tersebut
diatas. Bila terjadi asidosis metabolic, pertahankan perfusi sebaik mungkin dan
berikan natrium bikarbonat untuk membuat urin menjadi alkalis dan meningkatkan kelarutan
mioglobin dalam urin.s
e. Luka bakar karena
radiasi
Menurut ATLS (1997) efek
dini dari radiasi dosis tinggi akan tampak jelas dalam waktu beberapa menit
atau beberapa hari. Efek lanjut mungkin baru tampak beberapa minggu, bulan atau
bahkan bertahun-tahun kemudian. Mutasi (pergeseran) bahan genetik dari sel-sel
organ kelamin akan tampak jelas hanya jika korban pemaparan radiasi memiliki
anak, dimana anaknya mungkin terlahir dengan kelainan genetik.
Efek kerusakan yang
terjadi akibat radiasi tergantung kepada jumlah (dosis), lamanya pemaparan,
kecepatan pemaparan dan banyaknya bagian tubuh yang terkena radiasi.. Dimana
dosis tunggal yang diberikan dalam waktu singkat bisa berakibat fatal, tetapi
dosis yang sama yang diberikan selama beberapa minggu atau beberapa bulan bisa
hanya menimbulkan efek yang ringan. Jumlah dosis total dan kecepatan pemaparan
menentukan efek radiasi terhadap bahan genetik pada sel.
Banyaknya bagian tubuh
yang terkena radiasi Jika disebarluaskan ke seluruh permukaan tubuh, radiasi
yang lebih besar dari 6 gray biasanya menyebabkan kematian, tetapi jika hanya
diarahkan kepada sebagian kecil permukaan tubuh (seperti yang terjadi pada
terapi kanker), maka 3-4 kali jumlah tersebut bisa diberikan tanpa menimbulkan
efek yang berbahaya bagi tubuh Penyebarluasan radiasi di dalam tubuh, bagian
tubuh dimana sel-sel membelah dengan cepat (misalnya usus dan sumsum tulang),
lebih mudah mengalami kerusakan akibat radiasi daripada sel-sel yang membelah
secara lebih lambat (misalnya otot dan tendo). Oleh karena itu, selama
menjalani terapi radiasi untuk kanker, diusahakan agar bagian tubuh yang lebih
peka terhadap radiasi dilindungi sehingga bisa digunakan radiasi dosis tinggi.
Kecepatan dosis adalah jumlah radiasi yang diterima seseorang selama periode waktu tertentu. Kecepatan dosis radiasi dari lingkungan yang tidak dapat dihindari adalah rendah, yaitu sekitar 1-2 miligray/tahun (1 miligray sama dengan 1/1,000 gray), yang tidak menimbulkan efek pada tubuh. Efek radiasi sifatnya kumulatif, setiap pemaparan baru akan ditambahkan kepada pemaparan sebelumnya untuk menentukan dosis total dan kemungkinan efeknya pada tubuh. Semakin tinggi kecepatan dosis atau dosis totalnya, maka semakin besar kemungkinan timbulnya resiko.
Kecepatan dosis adalah jumlah radiasi yang diterima seseorang selama periode waktu tertentu. Kecepatan dosis radiasi dari lingkungan yang tidak dapat dihindari adalah rendah, yaitu sekitar 1-2 miligray/tahun (1 miligray sama dengan 1/1,000 gray), yang tidak menimbulkan efek pada tubuh. Efek radiasi sifatnya kumulatif, setiap pemaparan baru akan ditambahkan kepada pemaparan sebelumnya untuk menentukan dosis total dan kemungkinan efeknya pada tubuh. Semakin tinggi kecepatan dosis atau dosis totalnya, maka semakin besar kemungkinan timbulnya resiko.
Jika seseorang menjadi sakit setelah menjalani
terapi radiasi atau setelah terkena radiasi dalam suatu kecelakaan, maka
kemungkinan telah terjadi cedera akibat radiasi. Tidak ada pemeriksaan khusus
untuk mendiagnosis keadaan ini. Pemeriksaan darah dan sumsum tulang berulang
bisa memberikan informasi tambahan tentang beratnya cedera yang terjadi.
Radiasi kronik yang pemaparannya tidak diketahui atau tidak dihiraukan, sulit atau bahkan tidak mungkin terdiagnosis. Jika diduga telah terjadi suatu cedera akibat radiasi, biasanya dicari kemungkinan terjadinya pemaparan di tempat kerja dan dilakukan pemeriksaan kromosom (pembawa bahan genetik di dalam sel) secara periodik meskipun hasilnya mungkin tidak pasti. Pemeriksaan mata juga dilakukan secara periodik untuk mengetahui adanya katarak.
Kulit yang terkontaminasi oleh bahan radioaktif harus segera dicuci dengan air yang banyak dan (jika ada) dengan larutan yang memang dibuat untuk mencuci bahan radioaktif. Luka tusuk yang kecil harus benar-benar dibersihkan agar semua partikel radioaktif terbuang meskipun menimbulkan nyeri.n Jika bahan radioaktif tertelan, harus dirangsang untuk muntah. Pemaparan radioaktif yang berlebihan mungkin perlu dipantau dengan pemeriksaan pernafasan dan air kemih untuk radioaktif.
Radiasi kronik yang pemaparannya tidak diketahui atau tidak dihiraukan, sulit atau bahkan tidak mungkin terdiagnosis. Jika diduga telah terjadi suatu cedera akibat radiasi, biasanya dicari kemungkinan terjadinya pemaparan di tempat kerja dan dilakukan pemeriksaan kromosom (pembawa bahan genetik di dalam sel) secara periodik meskipun hasilnya mungkin tidak pasti. Pemeriksaan mata juga dilakukan secara periodik untuk mengetahui adanya katarak.
Kulit yang terkontaminasi oleh bahan radioaktif harus segera dicuci dengan air yang banyak dan (jika ada) dengan larutan yang memang dibuat untuk mencuci bahan radioaktif. Luka tusuk yang kecil harus benar-benar dibersihkan agar semua partikel radioaktif terbuang meskipun menimbulkan nyeri.n Jika bahan radioaktif tertelan, harus dirangsang untuk muntah. Pemaparan radioaktif yang berlebihan mungkin perlu dipantau dengan pemeriksaan pernafasan dan air kemih untuk radioaktif.
Sindroma otak akut selalu
berakibat fatal, karena itu pengobatan dimaksudkan untuk mengurangi nyeri,
kecemasan dan gangguan pernafasan. Untuk mengatasi kejang diberikan obat
penenang. Gejala sakit radiasi akut akibat terapi radiasi pada perut bisa
dikurangi dengan obat anti-mual dan anti-muntah yang diberikan sebelum pasien
menjalani terapi radiasi. Sindroma saluran pencernaan bisa diatasi dengan
anti-muntah, obat penenang dan makanan lunak. Cairan diberikan sesuai dengan
kebutuhan.
Pada 4-6 hari sesudah
radiasi, dilakukan transfusi darah berulang dan diberikan antibiotik, sampai
sel-sel baru mulai tumbuh di dalam saluran pencernaan. Pada sindroma
hematopoietik, untuk menggantikan sel darah yang hilang dilakukan transfusi.
Untuk mencegah infeksi diberikan antibiotik dan penderita dijauhkan dari
orang-orang yang sedang menderita suatu infeksi. Kadang dilakukan pencangkokkan
sumsum tulang, tetapi angka keberhasilannya rendah.
Langkat pertama untuk
mengatasi efek lanjut dari pemaparan jangka panjang adalah menghilangkan sumber
radiasi. Bahan radioaktif tertentu (misalnya radium, torium dan radiostrontium)
dapat dibuang dari dalam tubuh dengan obat-obatan yang menempel pada bahan
tersebut dan kemudian dibuang melalui air kemih. Obat-obat tersebut akan sangat
efektif jika diberikan segera setelah terjadinya pemaparan.
Luka terbuka dan kanker
diangkat atau diperbaiki melalui pembedahan.Pengobatan leukemia akibat radiasi
adalah dengan kemoterapi. Sel darah bisa digantikan melalui transfusi tetapi
tindakan ini hanya bersifat sementara karena sumsum tulang yang telah mengalami
kerusakan akibat radiasi tidak mungkin tumbuh kembali. Tidak ada pengobatan
yang dapat mengembalikan kesuburan, tetapi kelainan fungsi indung telur dan
buah zakar yang menyebabkan rendahnya kadar hormon seksual dapat diatasi dengan
terapi sulih hormon.
f. Luka bakar karena suhu
rendah
Cedera akibat suhu tubuh
dingin terutama terjadi pada bagian ujung tubuh yang langsung terkena suhu
dingin, seperti jari kaki dan tangan, telinga, dan hidung. Faktor kelembaban
udara yang rendah serta angin kencang memperberat kerusakan pada daerah yang
tidak terlindung pakaian.
Awalnya bagian tubuh yang
terpajan terasa dingin, kemudian diikuti rasa tebal, lalu bagian itu kehilangan
daya rasa. Kadang rasa nyeri terasa menyengat atau berdenyut. Kulit mula- mula
kemerahan , lalu menjadi pucat seperti lilin.Pada waktu suhu jaringan turun,
terjadi vasokonstriksi arteriol dan terjadi hipoksia sel.
Jenis- jenis trauma
dingin ( dalam ATLS 1997 ) dibagi menjadi 3 bentuk, yaitu :
Frosnip yang merupakan
bentuk yang paling ringan, ditandai dengan adanya rasa nyeri, tampak pucat dan
anestesi di daerah yang terkena. Keadaan tersebut bersifat reversible akan
pulih setelah tindakan pemanasan dan tidak terdapat kehilangan jaringan,
kecuali bila keadaan ini berulang dalam beberapa tahun, akan menyebabkan
kehilangan bantalan lemak atau terjadi atrofi.
Frosbite yaitu adanya
pembekuan jaringan yang terjadi karena pembentukan kristal intraselluler dan
oklusi mikrovaskuler sehingga terjadi anoksia jaringan. Beberapa dari kerusakan
jaringan terjadi akibat reperfusion injury setelah upaya penghangatan tubuh.
Sama halnya seperti pada luka bakar, frostbite biasanya dibagi menjadi 4 derajatkerusakan,
Non Freezing Injury ( trauma dingin tidak membekukan ) yaitu terjadi kerusakan endotel mikrovaskuler, stasis dan oklusi vaskuler “trench frost” (kaki parit) atau kaki dan tangan tercelup ( immersion foot or hand) menjelaskan satu keadaan nonfreezing injury dari tangan atau kaki, khususnya sering terjadi pada tentara, pelaut dan nelayan, sebagai akibat kontak menahun dengan “keadaan basah”, suhu dingin diatas titik beku. Meskipun kaki tampak hitam, tetapi tidak terjadi kerusakan jaringan dalam. Terjadi keadaan- keadaan vasospasme dan vasodilatasi pembuluh darah dengan akibat bahwa jaringan yang terkena mula- mula dingin dan anestetik berlanjut menjadi hyperemia dalam waktu 24 -48 jam.
Non Freezing Injury ( trauma dingin tidak membekukan ) yaitu terjadi kerusakan endotel mikrovaskuler, stasis dan oklusi vaskuler “trench frost” (kaki parit) atau kaki dan tangan tercelup ( immersion foot or hand) menjelaskan satu keadaan nonfreezing injury dari tangan atau kaki, khususnya sering terjadi pada tentara, pelaut dan nelayan, sebagai akibat kontak menahun dengan “keadaan basah”, suhu dingin diatas titik beku. Meskipun kaki tampak hitam, tetapi tidak terjadi kerusakan jaringan dalam. Terjadi keadaan- keadaan vasospasme dan vasodilatasi pembuluh darah dengan akibat bahwa jaringan yang terkena mula- mula dingin dan anestetik berlanjut menjadi hyperemia dalam waktu 24 -48 jam.
Dengan keadaan hyperemia,
terjadi rasa nyeri hebat seperti terbakar dan “disestesi” disertai timbulnya
gambaran kerusakan jaringan misalnya edema, timbulnya vesikel / bula ,
kemerahan, ekimosis dan ulserasi. Dapat terjadi penyakit infeksi berupa
selulitis, limfangitis atau gangrene. Dengan selalu memperhatikan upaya- upaya
hygiene kaki, dapat dicegah terjadinya penyakit tersebut.
Perasaan gatal pada
tangan dan kaki ( Chilblain atau Pernio) merupakan manifestasi kulit sebagai
akibat kontak berulang dengan keadaan atau suasana lembab atau dingin, seperti
terjadi pada para nelayan, atau kontak dengan keadaan dingin dan kering pada
pendaki gunung. Keadaan ini terutama terjadi pada daerah muka, tibia anterior,
bagian daerah dari tangan dan kaki dan pada daerah- daerah yang tidak
terlindung dengan baik.
2. Berdasarkan kedalaman
luka bakar
a. Luka bakar derajat I
1) Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis
2) Kulit kering, hiperemi berupa eritema
3) Tidak dijumpai bulae
4) Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi
5) Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 5-10 hari
1) Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis
2) Kulit kering, hiperemi berupa eritema
3) Tidak dijumpai bulae
4) Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi
5) Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 5-10 hari
b. Luka bakar
derajat II
1. Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian
dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi.
2. Dijumpai bulae.
3. Nyeri karena ujung-ujung saraf
teriritasi.
4. Dasar luka berwarna merah atau pucat,
sering terletak lebih tinggi diatas kulit normal.
c.Luka bakar derajat II ini dibedakan menjadi 2
(dua), yaitu :
o Derajat II dangkal (superficial)
Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis, Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh. Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 10-14 hari.
Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis, Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh. Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 10-14 hari.
o Derajat II dalam (deep)
Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis.Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh.Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung epitel yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi lebih dari sebulan.
Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis.Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh.Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung epitel yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi lebih dari sebulan.
c. Luka bakar derajat III
Luka bakar ini sangat
dalam dan merusak organ-organ dibawah kulit seperti otot, syaraf, tulang dan
bila terjadi karena listrik dapat merusak organ-organ tubuh lainnya seperti
hati, ginjal dan jantung. Kulit tampak putih dan kaku bila digerakan. Kulit
yang kaku ini bila terdapat melingkar pada anggota gerak harus segera dilakukan
insisi(robekan) kulit untuk menghilangkan tekanan pada pembuluh darah Nadi yang
ada dibawahnya. Bila tidak bagian anggota gerak bagian distal(bawah) dari lesi
akan mengalami kematian.
1. Kerusakan meliputi seluruh lapisan dermis dan
lapisan yang lebih dalam.
2. Organ-organ kulit seperti folikel rambut,
kelenjar keringat, kelenjar sebasea mengalami kerusakan.
3. Tidak dijumpai bulae.
4. Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan
pucat. Karena kering letaknya lebih rendah dibanding kulit sekitar.
5. Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan
dermis yang dikenal sebagai eskar.
6. Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi,
oleh karena ujung-ujung saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian.
7. Penyembuhan terjadi lama karena tidak
terjadi proses epitelisasi spontan dari dasar luka.
d. luka bakar derajat IV
Luka bakar derajat IV
adalah luka bakar yang mengenai otot, bahkan hingga ke tulang.
3.Berdasarkan tingkat
keseriusan luka
American Burn Association
menggolongkan luka bakar menjadi tiga kategori, yaitu:
a. Luka bakar
mayor
1. Luka bakar dengan luas lebih dari 25% pada
orang dewasa dan lebih dari 20% pada anak-anak.
2. luka bakar fullthickness lebih dari 20%.
3. Terdapat luka bakar pada tangan, muka,
mata, telinga, kaki, dan perineum
4. Terdapat trauma inhalasi dan multiple
injuri tanpa memperhitungkan derajat dan luasnya luka.
5. Terdapat luka bakar listrik bertegangan
tinggi.
b. Luka bakar moderat
1) Luka bakar dengan luas 15-25% pada orang dewasa dan 10-20% pada anak-anak.
2) Luka bakar fullthickness kurang dari 10%.
3) Tidak terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan perineum.
1) Luka bakar dengan luas 15-25% pada orang dewasa dan 10-20% pada anak-anak.
2) Luka bakar fullthickness kurang dari 10%.
3) Tidak terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan perineum.
c. Luka bakar minor
Luka bakar minor seperti yang didefinisikan
oleh Trofino (1991) dan Griglak (1992) adalah :Luka bakar dengan luas kurang
dari 15% pada orang dewasa dan kurang dari 10 % pada anak-anak.
1) Luka bakar fullthickness kurang dari 2%.
2) Tidak terdapat luka bakar di daerah wajah, tangan, dan kaki.
3) Luka tidak sirkumfer.
4) Tidak terdapat trauma inhalasi, elektrik, fraktur.
1) Luka bakar fullthickness kurang dari 2%.
2) Tidak terdapat luka bakar di daerah wajah, tangan, dan kaki.
3) Luka tidak sirkumfer.
4) Tidak terdapat trauma inhalasi, elektrik, fraktur.
4.Ukuran dan luas luka
bakar
Dalam menentukan ukuran
luas luka bakar kita dapat menggunakan beberapa metod
yaitu :
a. Rule of nine dari
Wallace
Kepala dan leher : 9%
Dada depan dan belakang : 18%
Abdomen depan dan belakang : 18%
Tangan kanan dan kiri : 18%
Paha kanan dan kiri : 18%
Kaki kanan dan kiri : 18%
Genital : 1%
Kepala dan leher : 9%
Dada depan dan belakang : 18%
Abdomen depan dan belakang : 18%
Tangan kanan dan kiri : 18%
Paha kanan dan kiri : 18%
Kaki kanan dan kiri : 18%
Genital : 1%
b. Diagram Penentuan luas
luka bakar pada anak- anak dengan diagram Lund dan Browder sebagai berikut:
LOKASI USIA (Tahun)
0-1 1-4 5-9 10-15 DEWASA
KEPALA 19 17 13 10 7
LEHER 2 2 2 2 2
DADA & PERUT 13 13 13 13 13
PUNGGUNG 13 13 13 13 13
PANTAT KIRI 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
PANTAT KANAN 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
KELAMIN 1 1 1 1 1
LENGAN ATAS KA. 4 4 4 4 4
LENGAN ATAS KI. 4 4 4 4 4
LENGAN BAWAH KA 3 3 3 3 3
LENGAN BAWAH KI. 3 3 3 3 3
TANGAN KA 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
TANGAN KI 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
PAHA KA. 5,5 6,5 8,5 8,5 9,5
PAHA KI. 5,5 6,5 8,5 8,5 9,5
TUNGKAI BAWAH KA 5 5 5,5 6 7
TUNGKAI BAWAH KI 5 5 5,5 6 7
KAKI KANAN 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5
KAKI KIRI 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5
LOKASI USIA (Tahun)
0-1 1-4 5-9 10-15 DEWASA
KEPALA 19 17 13 10 7
LEHER 2 2 2 2 2
DADA & PERUT 13 13 13 13 13
PUNGGUNG 13 13 13 13 13
PANTAT KIRI 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
PANTAT KANAN 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
KELAMIN 1 1 1 1 1
LENGAN ATAS KA. 4 4 4 4 4
LENGAN ATAS KI. 4 4 4 4 4
LENGAN BAWAH KA 3 3 3 3 3
LENGAN BAWAH KI. 3 3 3 3 3
TANGAN KA 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
TANGAN KI 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
PAHA KA. 5,5 6,5 8,5 8,5 9,5
PAHA KI. 5,5 6,5 8,5 8,5 9,5
TUNGKAI BAWAH KA 5 5 5,5 6 7
TUNGKAI BAWAH KI 5 5 5,5 6 7
KAKI KANAN 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5
KAKI KIRI 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5
c. Perhitungan luas luka
bakar menurut Linch dan Blocker (Rumus 10) untuk bayi:
Kepala: 20%
Tangan, masing-masing 10%
Kaki, masing-masing 10%
Badan kanan 20 %, kiri 20 %
Kepala: 20%
Tangan, masing-masing 10%
Kaki, masing-masing 10%
Badan kanan 20 %, kiri 20 %
E. PENATALAKSANAAN
Dalam Iswinarno (2003) prinsip penatalaksanaan dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase akut, subakut dan lanjut.
Dalam Iswinarno (2003) prinsip penatalaksanaan dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase akut, subakut dan lanjut.
Pada Fase Akut / Awal :
Cedera inhalasi merupakan
factor yang secara nyata memiliki korelasi dengan angka mortalitas. Kematian
akibat cedera inhalasi terjadi dalam waktu singkat, dalam 8 sampai 24 jam
pertama pasca cedera. Pemasangan pipa endotrakea dan atau krikotirotomi
merupakan suatu tindakan mandatorik pada kasus dengan kecurigaan adanya cedera
inhalasi. Sementara penatalaksanaan lanjutan setelah tindakan penyelamatan
tersebut ( terapi inhalasi, pembebasan saluran nafas dari produk secret mukosa,
pengaturan posisi penderita dan fisioterapi seawall mungkin). Masing- masing
turut berperan dalam keberhasilan terapi awal. Penderita yang bertahan hidup
setelah ancaman cedera inhalasi dalam waktu 8- 24 jam pertama ini, masih
dihadapkan pada komplikasi saluran pernafasan yang biasanya terjadi dalam 3-5
hari pasca trauma. Komplikasi dari cedera inhalasi, dikenal sebagai kondisi
ARDS, yang juga memiliki prognosis sangat buruk.
1. Penanggulangan terhadap shock, terutama syok
hipovolemik yang merupakan suatu proses yang terjadi pada luka bakar sedang
sampai berat.( Baxter, Barkland).
2. mengatasi gangguan keseimbangan cairan
Protokol pemberian cairan mengunakan rumus Brooke yang sudah
dimodifikasi yaitu :
24 jam I : Ciran Ringer Lactat : 2,5 – 4 cc/kg BB/% LB.
Dimana ½ bagian diberikan dalam 8 jam pertama (dihitung mulai dari jam kecelakaan) dan ½ bagian lagi diberikan dalam 16 jam berikutnya.
24 jam II : Cairan Dex 5 % in Water : 24 x (25 + % LLB) X BSA cc.
Albumin sebanyak yang diperlukan, (0,3 – 0,5 cc/kg/%).
Protokol pemberian cairan mengunakan rumus Brooke yang sudah
dimodifikasi yaitu :
24 jam I : Ciran Ringer Lactat : 2,5 – 4 cc/kg BB/% LB.
Dimana ½ bagian diberikan dalam 8 jam pertama (dihitung mulai dari jam kecelakaan) dan ½ bagian lagi diberikan dalam 16 jam berikutnya.
24 jam II : Cairan Dex 5 % in Water : 24 x (25 + % LLB) X BSA cc.
Albumin sebanyak yang diperlukan, (0,3 – 0,5 cc/kg/%).
3. Mengatasi gangguan pernafasan
4. Mengatasi infeksi
5. Eksisi luka scar dan skin graft.
6. Pemberian nutrisi dilakukan setelah
keadaan umum pasien baik, sebelumnya pasien dipuasakan.
7. Rahabilitasi
8. Penaggulangan terhadap gangguan
psikologis.
Pada fase subakut atau
lanjutan:
Kerusakan / kehilangan
kulit/ jaringan karena cedera termis menimbulkan masalah yang dapat
dikelompokan dalam dua golongan, dan masing- masing saling berhubungan, yaitu
memicu stress metabolism dan memicu SIRS, sepsis dan SDOM.
Kulit sebagai organ yang
memiliki fungsi mencegah penguapan, dengan sendirinya kerusakan kulit
menyebabkan penguapamn berlangsung tanpa kendali dan penguapan yang terjadi
tidak ahnya sekedar cairan namun juga melibatkan protein dan energy (evaporation
heat loss). Kondisi pertama yang terjadi adalah hipotermi, yang disusul dengan
menurunnya kadar protein total, khususnya albumin. Imbalans protein timbul
sebagai akibat, namun segera disusul oleh imbalans karbohidrat dan lemak
disamping imbalans cairan yang memang sudah terjadi sebelumnya.
Gangguan keempat system
homeostasis yang memicu pelepasan katekolamin dan hormone stress lain, sehingga
terjadi deteriorisasi system pengaturan, dalam kondisi gangguan sirkulasi yang
belum mencapai level normal ( dalam 3- 4 hari pasca cedera ), kondisi stress
yang timbul merupakan faktor yang memiliki nilai prognostik. Dengan kehilangan
kulit yuang berperan sebagai barier terhadap infeksi, invasi kuman menyebabkan
sepsis luka yang yang memperberat keadaan. Kedua hal tersebut diatas dapat
menjadi factor yang berperan dalam memicu timbulnya respons inflamasi sistemik,
sepsis dan sindrom disfungsi organ multiple.
Jaringan yang rusak melepas kompleks lipid- protein yang dulu dikenal sebagai burn-toxin, memiliki kekuatan ribuan kali dibandingkan endotoksin. Zat ini menyebabkan inhibisi proses fosforilasi oksidatif yang mengganggu fungsi sel ( Kremer 1978, 1979) dan memicu pelepasan sitokin dan mediator kimia lain yang breperan pada proses inflamasi ( interleukin, tromboksane, tumor necrotizing factor, prostaglandin, termasuk radikal bebas). Reaksi yang mulanya bersifat lokal berkembang menjadi suatu bentuk reaksi sistemik, meliputi beberapa tahapan (kaskade) yang rumit, dan berkaitan dengan status gizi dan system imunitas penderita. Sindrom respons inflamasi sistemik yang berkembang tidak dapat dihentikan melalui suatu system intervensi, sindrom disfungsi organ multiple adalah rangkaian akhir dari perjalanan penyakit yang berakhir dengan kematian. Bila sudah terjadi kegagalan organ ( jantung, paru , ginjal ), angka kematian berkisar 70.
Jaringan yang rusak melepas kompleks lipid- protein yang dulu dikenal sebagai burn-toxin, memiliki kekuatan ribuan kali dibandingkan endotoksin. Zat ini menyebabkan inhibisi proses fosforilasi oksidatif yang mengganggu fungsi sel ( Kremer 1978, 1979) dan memicu pelepasan sitokin dan mediator kimia lain yang breperan pada proses inflamasi ( interleukin, tromboksane, tumor necrotizing factor, prostaglandin, termasuk radikal bebas). Reaksi yang mulanya bersifat lokal berkembang menjadi suatu bentuk reaksi sistemik, meliputi beberapa tahapan (kaskade) yang rumit, dan berkaitan dengan status gizi dan system imunitas penderita. Sindrom respons inflamasi sistemik yang berkembang tidak dapat dihentikan melalui suatu system intervensi, sindrom disfungsi organ multiple adalah rangkaian akhir dari perjalanan penyakit yang berakhir dengan kematian. Bila sudah terjadi kegagalan organ ( jantung, paru , ginjal ), angka kematian berkisar 70.
Penatalaksanaan secara
sistematik dapat dilakukan :
1. Clothing
singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. Bahan pakaian yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka dibiarkan untuk sampai pada fase cleaning.
singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. Bahan pakaian yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka dibiarkan untuk sampai pada fase cleaning.
2. Cooling
Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan menggunakan air mengalir selama 20 menit, hindari hipotermia (penurunan suhu di bawah normal, terutama pada anak dan orang tua). Cara ini efektif samapai dengan 3 jam setelah kejadian luka bakar – Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif tetap memberikan rasa dingin) sebagai analgesia (penghilang rasa nyeri) untuk luka yang terlokalisasi – Jangan pergunakan es karena es menyebabkan pembuluh darah mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan memperberat derajat luka dan risiko hipotermia – Untuk luka bakar karena zat kimia dan luka bakar di daerah mata, siram dengan air mengalir yang banyak selama 15 menit atau lebih. Bila penyebab luka bakar berupa bubuk, maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit baru disiram air yang mengalir.
Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan menggunakan air mengalir selama 20 menit, hindari hipotermia (penurunan suhu di bawah normal, terutama pada anak dan orang tua). Cara ini efektif samapai dengan 3 jam setelah kejadian luka bakar – Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif tetap memberikan rasa dingin) sebagai analgesia (penghilang rasa nyeri) untuk luka yang terlokalisasi – Jangan pergunakan es karena es menyebabkan pembuluh darah mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan memperberat derajat luka dan risiko hipotermia – Untuk luka bakar karena zat kimia dan luka bakar di daerah mata, siram dengan air mengalir yang banyak selama 15 menit atau lebih. Bila penyebab luka bakar berupa bubuk, maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit baru disiram air yang mengalir.
3. Cleaning
pembersihan dilakukan dengan zat anastesi untuk mengurangi rasa sakit. Dengan membuang jaringan yang sudah mati, proses penyembuhan akan lebih cepat dan risiko infeksi berkurang
pembersihan dilakukan dengan zat anastesi untuk mengurangi rasa sakit. Dengan membuang jaringan yang sudah mati, proses penyembuhan akan lebih cepat dan risiko infeksi berkurang
4. Chemoprophylaxis
pemberian anti tetanus, dapat diberikan pada luka yang lebih dalam dari superficial partial- thickness (dapat dilihat pada tabel 4 jadwal pemberian antitetanus). Pemberian krim silver sulvadiazin untuk penanganan infeksi, dapat diberikan kecuali pada luka bakar superfisial. Tidak boleh diberikan pada wajah, riwayat alergi sulfa, perempuan hamil, bayi baru lahir, ibu menyususi dengan bayi kurang dari 2 bulan
pemberian anti tetanus, dapat diberikan pada luka yang lebih dalam dari superficial partial- thickness (dapat dilihat pada tabel 4 jadwal pemberian antitetanus). Pemberian krim silver sulvadiazin untuk penanganan infeksi, dapat diberikan kecuali pada luka bakar superfisial. Tidak boleh diberikan pada wajah, riwayat alergi sulfa, perempuan hamil, bayi baru lahir, ibu menyususi dengan bayi kurang dari 2 bulan
5. Covering and
penutupan luka bakar dengan
kassa. Dilakukan sesuai dengan derajat luka bakar. Luka bakar superfisial tidak
perlu ditutup dengan kasa atau bahan lainnya. Pembalutan luka (yang dilakukan
setelah pendinginan) bertujuan untuk mengurangi pengeluaran panas yang terjadi
akibat hilangnya lapisan kulit akibat luka bakar. Jangan berikan mentega,
minyak, oli atau larutan lainnya, menghambat penyembuhan dan meningkatkan
risiko infeksi.
6. Comforting
Dapat dilakukan pemberian
pengurang rasa nyeri untuk membantu pasien mengatasi kegelisahan karena nyeri
yang berat.
Prinsip Penanganan
Frosbite dan Trauma Dingin Non Beku yaitu penanganan harus sesegera mungkin
dilakukan untuk mengurangi waktu pembekuan jaringan. Upaya pemanasan hendaknya
tidak dilakukan bila penderita beresiko untuk mengalami pembekuan ulang. Baju-
naju yang sempit harus dilepaskan dan diganti dengan selimut hangat. Apabila
penderita bisa minum, berikan minuman hangat. Rendam bagian tubuh yang
kedinginan dengan air hangat bersuhu 40oC ( jika mungkin air tersebut berputar
) hingga warna kulit dan perfusi kembali normal. Hindari pemanasan kering dan
jangan lakukan tindakan mengurut. Tindakan penghangatan akan menimbulkan rasa
nyeri yang hebat sehingga memerlukan pemberian obat- obat analgesik. Dianjurkan
untuk melakukan monitoring jantung sewaktu tindakan penghangatan tubuh.
( American College of Surgeons Committee
on Trauma, 1997 )Dikenal dua cara merawat luka :
1. Perawatan terbuka (exposure method)
2. Perawatan tertutup (occlusive dressing method)
1. Perawatan terbuka (exposure method)
2. Perawatan tertutup (occlusive dressing method)
Keuntungan perawatan
terbuka adalah mudah dan murah. Permukaan luka yang selalu terbuka menjadi
dingin dan kering sehingga kuman sulit berkembang. Kerugiannya bila digunakan
obat tertentu, misalnya mitras-argenti, alas tidur menjadi kotor. Penderita dan
keluargapun merasa kurang enak karena melihat luka yang tampak kotor.
Perawatan terbuka ini
memerlukan ketelatenan dan pengawasan yang ketat dan aktif. Keadaan luka harus
diamati beberapa kali dalam sehari. Cara ini baik untuk merawat LB yang
dangkal. Untuk LB III dengan eksudasi dan pembentukan pus harus dilakukan
pembersihan luka berulang-ulang untuk menjaga luka tetap kering. Penderita
perlu dimandikan tiap hari, tubuh sebagian yang luka dicuci dengan sabun atau
antiseptik dan secara bertahap dilakukan eksisi eskar atau debridement.
Perawatan tertutup
dilakukan dengan memberikan balutan yang dimaksudkan untuk menutup luka dari
kemungkinan kontaminasi. Keuntungannya adalah luka tampak rapi, terlindung dan
enak bagi penderita. Hanya diperlukan tenaga dan biaya yang lebih karena
dipakainya banyak pembalut dan antiseptik. Untuk menghindari kemungkinan kuman
untuk berkembang biak, sedapat mungkin luka ditutup kasa penyerap (tole)
setelah dibubuhi dan dikompres dengan antispetik. Balutan kompres diganti
beberapa kali sehari. Pada waktu penggantian balut, eskar yang terkelupas dari
dasarnya akan terangkat, sehingga dilakukan debridement. Tetapi untuk LB luas
debridement harus lebih aktif dan dicuci yaitu dengan melakukan eksisi eskar.
Indikasi rawat inap
pasien luka bakar yaitu :
1. Derajat II (dewasa > 30 %, anak >
20 %).
2. Derajat III > 10%
3. Luka bakar dengan komplikasi pada
saluran nafas, fraktur, trauma jaringan lunak yang hebat.
4. Luka bakar akibat sengatan listrik
5. Derajat III yang mengenai bagian tubuh
yang kritis seperti muka, tangan, kaki, mata, telinga, dan
anogenital.
6. Penderita syok atau terancam syok bila
luas luka bakar > 10% pada anak atau > 15% pada orang dewasa.
7. Terancam edema laring akibat terhirupnya
asap atau udara hangat.
8. Letak luka memungkinkan penderita
terancam cacat berat, seperti pada wajah, mata, tangan, kaki atau perineum
9. Luka bakar mengenai wajah, tangan, alat
kelamin atau kaki
10. Penderita akan mengalami kesulitan dalam
merawat lukanya secara baik dan benar di rumah
11. Penderita berumur kurang dari 2 tahun
atau lebih dari 70 tahun
12. Terjadi luka bakar pada organ dalam.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium : Hb, Ht, Leucosit, Thrombosit,
Gula darah, Elektrolit, Ureum, Kreatinin, Protein, Albumin, Hapusan luka, Urine
lengkap.
2. Analisa gas darah (bila diperlukan).
3. Rontgen : Foto Thorax
4. EKG
5. CVP : untuk mengetahui tekanan vena sentral,
diperlukan pada luka bakar lebih dari 30 % dewasa dan lebih dari 20 % pada
anak.
G. KOMPLIKASI
1. Infeksi.
Infeksi merupakan
masalah utama. Bila infeksi berat, maka penderita dapat mengalami sepsis.
Berikan antibiotika berspektrum luas, bila perlu dalam bentuk kombinasi.
Kortikosteroid jangan diberikan karena bersifat imunosupresif (menekan daya
tahan), kecuali pada keadaan tertentu, misalnya pda edema larings berat demi
kepentingan penyelamatan jiwa penderita.
2. Curling’s ulcer (ulkus
Curling).
Ini merupakan komplikasi
serius, biasanya muncul pada hari ke 5–10. Terjadi ulkus pada duodenum atau
lambung, kadang-kadang dijumpai hematemesis. Antasida harus diberikan secara
rutin pada penderita luka bakar sedang hingga berat. Pada endoskopi 75% penderita
luka bakar menunjukkan ulkus di duodenum.
3. Konvulsi.
Komplikasi yang
sering terjadi pada anak-anak adalah konvulsi. Hal ini disebabkan oleh
ketidakseimbangan elektrolit, hipoksia, infeksi, obat-obatan (penisilin,
aminofilin, difenhidramin) dan 33% oleh sebab yang tak diketahui.
4. Komplikasi luka bakar
yang lain adalah
timbulnya kontraktur dan gangguan kosmetik akibat jaringan parut yang dapat
berkembang menjadi cacat berat. Kontraktur kulit dapat mengganggu fungsi dan
meyebabkan kekakuan sendi sehingga memerlukan program fisioterapi yang intensif
dan tindakan bedah.
5. Gangguan Jalan nafas.
Paling dini muncul
dibandingkan komplikasi lainnya, muncul pada hari pertama. Terjadi karena
inhalasi, aspirasi, edema paru dan infeksi. Penanganan dengan jalan
membersihkan jalan nafas, memberikan oksigen, trakeostomi, pemberian
kortikosteroid dosis tinggi dan antibiotika. Cedera Inhalasi yang dibahas di
dalam alam dr M. Sjaifudin Noer (2003), cedera inhalasi merupakan terminologi
yang digunakan untuk menjelaskan perubahan mukosa saluran nafas akibat adanya
paparan terhadap suatu iritan yang dapat menimbulkan manifestasi klinis berupa
distress pernafasan. Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka bakar
mengenai daerah muka (wajah ), dapat menimbulkan kerusakan mukosa jalan nafas
akibat gas, asap atau uap panas yang terhisap. Edema yang terjadi dapat
menyebabkan gangguan berupa hambatan jalan nafas karena edema laring. Gejala
yang timbul adalah sesak nafas, takipneu, stridor, suara serak dan dahak berwarna
gelap karena jelaga.
Mekanisme pada cedera
inhalasi dibagi menjadi tiga penyebab, yaitu karbon monoksida, trauma panas
langsung pada daerah saluran nafas atau digestive, dan inhalasi dari produk
bahan yang terbakar atau terhirup bahan toksik atau korosif.
Trauma panas langsung
adalah terhirupnya sesuatu yang sangat panas, produk- produk yang tidak
sempurna dari bahan yang terbakar seperti bahan jelaga dan bahan khusus yang
menyebabkan kerusakan dari mukosa langsung pada percabangan trakeobronkial.
Keracunan asap disebabkan oleh termodegradasi material alamiah dan material yang diproduksi. Akibat dari termodegradasi menyebabkan terbentuknya gas toksius seperti hydrogen sianida, nitrogen dioksida, hydrogen klorida, akreolin, dan partikel- partikel tersuspensi. Efek akut dari bahan kimia ini pada saluran nafas adalah iritasi dan bronkokonstriksi.
Keracunan asap disebabkan oleh termodegradasi material alamiah dan material yang diproduksi. Akibat dari termodegradasi menyebabkan terbentuknya gas toksius seperti hydrogen sianida, nitrogen dioksida, hydrogen klorida, akreolin, dan partikel- partikel tersuspensi. Efek akut dari bahan kimia ini pada saluran nafas adalah iritasi dan bronkokonstriksi.
Kecurigaan adanya cedera inhalasi adalah bila
pada penderita luka bakar terdapat 3 atau lebih dari tanda- tanda berikut :
1. Riwayat terjebak dalam rumah atau tempat industry yang tertutup ( in door)
2. Sputum yang tercampur arang
3. Luka bakar perioral, termasuk hidung, bibir, mulut atau tenggorokan.
4. Penurunan kesadaran termasuk confusion
5. Tanda distress nafas, seperti rasa tercekik, tersedak, malas bernafas dan adanya wheezing atau rasa tidak nyaman pada mata atau tenggorokan, menandakan iritasi mukosa
6. Gejala distress nafas takipneu atau kelainan pada auskultasi seperti krepitasi atau
1. Riwayat terjebak dalam rumah atau tempat industry yang tertutup ( in door)
2. Sputum yang tercampur arang
3. Luka bakar perioral, termasuk hidung, bibir, mulut atau tenggorokan.
4. Penurunan kesadaran termasuk confusion
5. Tanda distress nafas, seperti rasa tercekik, tersedak, malas bernafas dan adanya wheezing atau rasa tidak nyaman pada mata atau tenggorokan, menandakan iritasi mukosa
6. Gejala distress nafas takipneu atau kelainan pada auskultasi seperti krepitasi atau
H. PROGNOSIS
Pemulihan tergantung
kepada kedalaman dan lokasi luka bakar.
Pada luka bakar superfisial (derajat I dan derajat II superfisial), lapisan kulit yang mati akan mengelupas dan lapisan kulit paling luar kembali tumbuh menutupi lapisan di bawahnya.
Lapisan epidermis yang baru dapat tumbuh dengan cepat dari dasar suatu luka bakar superfisial dengan sedikit atau tanpa jaringan parut. Luka bakar superfisial tidak menyebabkan kerusakan
Pada luka bakar superfisial (derajat I dan derajat II superfisial), lapisan kulit yang mati akan mengelupas dan lapisan kulit paling luar kembali tumbuh menutupi lapisan di bawahnya.
Lapisan epidermis yang baru dapat tumbuh dengan cepat dari dasar suatu luka bakar superfisial dengan sedikit atau tanpa jaringan parut. Luka bakar superfisial tidak menyebabkan kerusakan
pada
lapisan kulit yang lebih dalam (dermis).
Luka bakar dalam menyebabkan cedera pada dermis. Lapisan epidermis yang baru tumbuh secara lambat dari tepian daerah yang terluka dan dari sisa-sisa epidermis di dalam daerah yang terluka. Akibatnya, pemulihan berlangsung sangat lambat dan bisa terbentuk jaringan parut.
Daerah yang terbakar juga cenderung mengalami pengkerutan, sehingga menyebabkan perubahan pada kulit dan mengganggu fungsinya. Luka bakar ringan pada kerongkongan, lambung dan paru-paru biasanya akan pulih tanpa menimbulkan masalah. Luka yang lebih berat bisa menyebabkan pembentukan jaringan parut dan penyempitan. Jaringan parut bisa menghalangi jalannya makanan di dalam kerongkongan dan menghalangi pemindahan oksigen yang normal dari udara ke darah di paru-paru.
Luka bakar dalam menyebabkan cedera pada dermis. Lapisan epidermis yang baru tumbuh secara lambat dari tepian daerah yang terluka dan dari sisa-sisa epidermis di dalam daerah yang terluka. Akibatnya, pemulihan berlangsung sangat lambat dan bisa terbentuk jaringan parut.
Daerah yang terbakar juga cenderung mengalami pengkerutan, sehingga menyebabkan perubahan pada kulit dan mengganggu fungsinya. Luka bakar ringan pada kerongkongan, lambung dan paru-paru biasanya akan pulih tanpa menimbulkan masalah. Luka yang lebih berat bisa menyebabkan pembentukan jaringan parut dan penyempitan. Jaringan parut bisa menghalangi jalannya makanan di dalam kerongkongan dan menghalangi pemindahan oksigen yang normal dari udara ke darah di paru-paru.
Penanganan Luka Bakar yang Benar
Luka bakar sangat berbahaya. Jika salah dan
terlambat dalam penanganan, akan berakibat kematian. Dan mitos2 yg beredar di
masyarakat turut serta mempersulit proses pengobatan tersebut. Karena itu perlu
kita ketahui, apa saja larangan pada penderita luka bakar.
Yang Tidak Boleh Dilakukan :
1.Jangan Melumuri Dengan Kecap, Margarin,
Salep, dll.1.
Mungkin ini terdengar konyol. Tapi inilah
kenyataannya. Pasien dengan luka bakar, ketika tiba di rumah sakit seringkali
sudah dalam keadaan dilumuri kecap atau mentega, atau bahkan minyak tanah
Kecap, salep, obat gosok, dll justru akan
sangat mengganggu proses pengobatan. Kulit yg terbakar pasti akan dibersihkan
oleh dokter. Dan karena kecap dkk menempel sangat kuat pada kulit, sehingga
sangat sulit membersihkan jaringan yg rusak..
2. Jangan Diperban.
Pembalutan yang salah justru akan memperparah
keadaan. Selain itu justru akan mempersulit proses pembersihan luka. Memang
perban diperlukan untuk kasus2 tertentu, namun sebaiknya dilakukan oleh tenaga
medis atau paramedis. Dalam kasus luka bakar ada dua pilihan perawatan dibalut
atau tidak, semuanya mempunyai kelebihan dan kekurangan, itupun tergantung
kasusnya. Namun pembalutan dilakukan setelah luka dibersihkan, jadi tidak
langsung setelah terbakar.
3. Jangan Menekuk Tubuh
Ketika seluruh tubuh atau sebagian tubuh
terbakar api, posisi tubuh harus dalam keadaan menjauhi pusat tubuh. Misalnya
tangan, jari2 harus dalam keadaan terbuka, tidak boleh menggenggam. Siku tidak
boleh ditekuk. Kepala jangan menunduk, kalau bisa diarahkan ke atas (bahasa
jawa : ndangak). Dan lain2.
Posisi tubuh harus tidak boleh dalam keadaan
tertekuk, karena kulit akan mengkerut. Jika tangan anda menggepal atau menekuk,
maka posisinya akan tetap seperti itu ketika sembuh nanti. Begitu juga dengan
kepala, jika menunduk, maka ketika sembuh dagu akan dempet dengan dada. Dan
seterusnya.
Hal ini wajar, karena setiap makhluk hidup yg
dipanaskan, pasti akan menkerut. Contohnya ikan asin. Setelah di jemur pasti
akan mengkerut, dan tentu bobotnyapun akan berkurang. Dan setelah mengkerut,
tidak mungkin ikan asin dapat kembali menjadi ikan segar.
Mungkin dengan kemajuan teknologi, hal ini
dapat diperbaiki dengan operasi plastik, namun apa salahnya mengurangi resiko
kecacatan yang lebih parah.
Yang Harus dilakukan :
1. Bukalah Pakaian.
Lepaskan pakaian, cincin,
jam tangan, dan ikat pinggang. Kecuali bila pakaian melekat di tempat luka
bakar. Hal ini dimaksudkan agar mempermudah dalam penanganan medis nantinya.
Dan juga untuk menurunkan suhu tubuh, terutama jika luka bakar akibat panas
lingkungan (heat stroke).
2. Siram dengan Air Bersih
Ini bertujuan untuk
melokalisir kerusakan jaringan agar tidak meluas. Siram dengan air mengalir
atau celupkan langsung ke bak mandi selama kurang lebih 10-15 menit, tergantung
keadaan. Luka bakar akibat apapun, inilah perawatan pertamanya. Jika terbakar
akibat bahan kimia, air dapat berfungsi sebagai penetral dari bahan asam atau
basa tersebut. Namun pada luka bakar berat, bukan berarti harus disiram air
lebih lama. Justru sebaliknya, siram air secukupnya dan usahakan secepat
mungkin mendapat perawatan medis.
3. Mendapat Perawatan Medis Secepatnya
Pada luka bakar berat, perlu mendapatkan
perawatan medis yg segera. Karena seperti yg telah saya jelaskan, luka bakar
akan mengkerut, pada kasus2 tertentu luka bakar akan berakibat pada tertutupnya
jalan nafas. Jika ini terjadi lama, bisa dipastikan akan menyebabkan kematian.
Selain itu tubuh juga kekurangan cairan, oleh sebab itu memerlukan bantuan
cairan infus agar tidak dehidrasi.
Pengobatan secara alami
obat alami yang sangat ampuh dan terbaik yaitu obat alami bernama jelly gamat gold g. Dengan anda oleskan ke
bagian tubuh anda yang terkena luka bakar secara rutin, maka luka
bakar anda tersebut akan mengering dan sembuh sampai tuntas hilang tanpa bekas
dari luka bakar tersebut secara terapi. pemakaiannya secara rutin dan
terus menerus sampai luka bakar itu mengering dengan sendirinya. Dan tubuh anda
yang terkena luka bakar akan halus dan mulus kembali. Dan anda juga dapat
meminumnya untuk mempercepat luka tersebut bisa sembuh dari dalam dan luarpun
juga.
Dan untuk jelly gamat yang terbuat dari bahan yang berkualitas bagus dan sangat terbaik
diseluruh dunia. Yaitu terbuat dari bahan ekstrak gamat / teripang, hewan laut
yang berhabitat didasar laut. Yang mana telah diproses dengan alat teknologi
modern yang prosesnya tersebut terbebas dari bahan kimia. Sehingga tercipta
sebuah produk alami jelly gamat gold dan jelly gamat gold g ini aman untuk dikonsumsi oleh orang dewasa atau
anak-anak, tanpa menimbulkan efek samping. Serta jelly gamat ini akan
melepaskan ketergantungan anda dari obat-obatan berbahan kimia, karena jelly
gamat ini banyak menbgandung manfaat bagi tubuh manusia.
Langkah-langkah perawatan
luka bakar
Gejala luka bakar ringan adalah kulit memerah,
ada pembengkakan, dan pada beberapa kasus, bisa menyebabkan demam dan sakit
kepala.
Walaupun tergolong ringan, luka bakar ringan
tetap harus dirawat dengan baik. Yayasan perawat mencoba memberikan langkah-langkah perawatan luka bakar ringan :
a. Dinginkan luka bakar dengan air dingin yang
mengalir secara terus menerus selama 15 menit. Hal ini bisa dilakukan dengan
meletakkan bagian yang mengalami luka bakar di bawah kran dengan air yang terus
mengalir, atau rendam dalam bak mandi atau ember yang berisi air dingin.
Tindakan ini berguna untuk mencegah atau mengurangi bengkak yang disebabkan
oleh kerusakan jaringan serta mencegah kerusakan merembet ke lapisan kulit yang
lebih dalam.
b. Tidak meletakkan es secara langsung pada luka
bakar, karena dapat menyebabkan frosbite, yaitu cedera atau kematian sel karena
membeku.
c. Jangan mengoleskan apapun ke kulit yang
mengalami luka bakar sebelum anda melakukan tindakan diatas. Mengoleskan pasta
gigi atau mentega bukanlah tindakan yang tepat, bahkan akan memicu munculnya
infeksi.
d. Yayasan Perawat menganjurkan Setelah luka
bakar dingin, oleskan lotion yang mengandung aloe vera atau vitamin E. Hal ini
bertujuan untuk mencegah kulit menjadi kering atau rusak.
e. Bila perlu anda dapat menutup kulit yang
mengalami luka bakar dengan kasa steril yang mengandung antibiotik (
Sofratulle atau Daryantulle) dan plester. Tindakan ini dapat mencegah
terjadinya infeksi dan juga mengurangi nyeri akibat luka bakar bersentuhan
dengan udara atau pakaian.
f. Yayasan Perawat menambahkan Selain kasa steril
yg mengandung antibiotik anda juga bisa mengoleskan krim antibiotik contohnya
Bioplacenton ke luka bakar untuk mencegah infeksi.
g. Untuk mengurangi rasa nyeri atau demam Yayasan
Perawat menganjurkan meminum pereda nyeri seperti paracetamol atau aspirin.
h. Setelah luka bakar sembuh untuk mengurangi
bekas luka dapat menggunakan mederma gel yang bisa di beli di apotik-apotik
terdekat
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Luka bakar adalah luka
yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api, air panas, listrik,
bahan kimia, radiasi, juga kontak langsung dengan suhu rendah ( frost bite ).
Luka bakar biasanya dinyatakan dalam derajat yang ditentukan oleh kedalaman
luka bakar, dimana umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya akan sangat
mempengaruhi prognosis.
Prinsip penanganan luka
bakar bergantung fase yang terjadi dimana prinsip penatalaksanaan dibagi
menjadi dua fase yaitu fase akut dan lanjut, dimana pada fase akut adalah
penanggulangan syok, mengatasi gangguan pernafasan, mengatasi infeksi, eksisi
luka scar dan skin graft, pemberian nutrisi dilakukan setelah keadaan umum
pasien baik, sebelumnya pasien dipuasakan, rehabilitasi, penaggulangan terhadap
gangguan psikologis. Sedangkan pada fase subakut atau lanjutan dilakukan
manakala penanganan fase akut yang kurang maksimal mengakibatkan perlu
penanganan yang serius pada fase subakut atau lanjutan, yang meliputi 4 sistem
homeostasis, yaitu kardiovaskuler, Renalis, Imonologi, dan Gastro Intestinal.
Pemulihan tergantung kepada kedalaman dan
lokasi luka bakar.
Pada luka bakar superfisial (derajat I dan derajat II superfisial), lapisan kulit yang mati akan mengelupas dan lapisan kulit paling luar kembali tumbuh menutupi lapisan di bawahnya.
B.KRITIK
Pada luka bakar superfisial (derajat I dan derajat II superfisial), lapisan kulit yang mati akan mengelupas dan lapisan kulit paling luar kembali tumbuh menutupi lapisan di bawahnya.
B.KRITIK
Kritik membangun sangat
diharapkan oleh penulis,untuk perbaikan penulisan maupun pembahasan dalam
makalah ini.Yang diharapkan dapat member perubahan kea rah yang lebih
baik,untuk pembuatan makalah selanjutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
A.
Bambang Darwono; F. Sutoko, Protokol Pengelolaan Luka Bakar, Bagian Bedah, FK
Undip/RS dr. Kariadi.
ATLS. American College of Surgeons Committee On Trauma. 1997. First Impression. United States of America.
Basic Science of Plastic and Reconstructive Surgery. Pertemuan ilmiah berkala trigonum plus XV. Oktober 2003.
Baxter CR. Management of Burn Wound. Dermatol Clin 1993;11:709-14.
Bisono, Pusponegoro AD; Luka, Trauma, Syok dan Bencana. Dalam : Syamsuhidajat R, Jong WD ed Buku Ajar Ilmu Bedah, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1997 : 81-91.
Britt LD, Danscobe WH, Rodriguez A; New Horizon in management of hypotermi and frostbite injury. Surgical Clinics of North America:1991.
Charles W. Van Way III, Charles A, Buerk : Manual Ketrampilan Dasar Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, 1990, 105-110.
Cioffi WG, Graves TA, McMannus WF et al: High frequency percussive ventilation in patients with inhalation injury. Journal of Trauma 1987.
Danzl D, Pozos R, Auerbach P, et al: Multicenter hypothermia survey. Annals of Emergency Medicine, 1987.
Dr. Cornel Prawirawinata. Dasar-dasar Dalam Luka Bakar, PUSDALIN IDI.
Dr. I Nyoman Putu Riasa, SpBP. Memahami Luka Bakar, Penanggung Jawab Medis Unit Luka Bakar RS Sanglah, Denpasar, Bali.
Djohansjah, M. (1991). Pengelolaan Luka Bakar. Airlangga University Press. Surabaya.
Edlich R, Change D, Birk K, et al: Cold Injuries. Comprehensive Therapy, 1989.
Gentilello L, Jurkovich G, Moujaes S: Hypothermia and Injury: Termodynamic principles of prevention and treatment. In: Levine B ( Prospectives in Surgery. St Louis, Quality Medical Publishers, 1991.
Haponik EF, Munster AM (eds): Respiratory Injury : Smoke inhalation and Burns. New York, McGraw- Hill,1990.
Horne.M, Mima. Swearingen, L. Pamela, 2001. Keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa. Jakarta : EGC.
Hospital and prehospital resources for optimal care of patients with burn injury: guidelines for development and operation of burn centers. American Burn Association. J Burn Care Rehabil 1990;11:98-104.
Ian A McGregor M.B., Ch. M., FR.C.S.(Eng), F.R.C.S.(Glasg), Hon. F.A.C.S.; Fundamental Techniques of Plastic Surgery;1980, Churcill Livingstone, Edinburgh London and New York.
James W. Smith, Sherrell J. Aston (Edit): Grabb and Smith Plastic Surgery: Fourth edition ; 1991; Little, Brown and Company; Boston/ Toronto/ London.
Joseph G McCarthy, M.D.; Plastic Surgery (8 vol ); W.B Saunders Company, Philaadelphia, London Toronto, Montreal, Sydney, Tokyo, 1990.
Jurkovich GC: Hipotermia in the trauma patient. Advance Trauma. Chicago, Year Book Medical Publishers, 1989.
Lund C, Browder N. The Estimation of Areas of Burns. Surg Gynecol Obstet 1944;79:352-8.
McMannus WF, Pruitt BA : Thermal Injuries. In: Mattox RH, Moore EE, Feliciano CV. Trauma, 2nd Edition. East Norwalk, Connecticut, Appleton & Lange, 1991.
Mills WJ Jr: Summary of treatment of the cold injury patient: frostbite. Alaska Medicine 1993.
Moenadjat Y. Luka Bakar, Penatalaksanan Awal dan Penatalaksanaannya. Ramlim, Umbas R, Panigoro SS, Kedaruratan Non-Bedah dan Bedah, Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2000 : 62-70.
Mozingo DW, Smith AA, McManus WF, et al: Chemical Burns. Journal of Trauma 1988.
O’ Malley J, Mills W, Kappes B, et al : Frosbite: general and specific treatment, the Alaska method. Alaska Medicine,1993.
Pruitt BA Jr: The Burn patient: II. Later care and complications of thermal injury. Current problems in surgery,1979.
R. Yefta Moenadjat; Luka Bakar, Pengetahuan Klinis Praktisi; Jakarta 2000.
Saffle JR, Crandall A, Warden GD: A long term complication of electrical injury. Journal of trauma,1985.
Sauer EW. Introduction. Naskah Burn Symposium and Workshop. Jakarta : Sub Bagian Bedah Plastik. Bagian Ilmu Bedah, FKUI, 1997 : 18-25.
Setiomiharja S. Luka Bakar. Dalam : Rekosprodjo S, Pusponegoro AD, Kartono D, Hutagalung EU, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Jakarta Bina Rupa Aksara, 1995, 435-42
Sjamsuhidajat, R. de Jong, Wim, 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
ATLS. American College of Surgeons Committee On Trauma. 1997. First Impression. United States of America.
Basic Science of Plastic and Reconstructive Surgery. Pertemuan ilmiah berkala trigonum plus XV. Oktober 2003.
Baxter CR. Management of Burn Wound. Dermatol Clin 1993;11:709-14.
Bisono, Pusponegoro AD; Luka, Trauma, Syok dan Bencana. Dalam : Syamsuhidajat R, Jong WD ed Buku Ajar Ilmu Bedah, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1997 : 81-91.
Britt LD, Danscobe WH, Rodriguez A; New Horizon in management of hypotermi and frostbite injury. Surgical Clinics of North America:1991.
Charles W. Van Way III, Charles A, Buerk : Manual Ketrampilan Dasar Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, 1990, 105-110.
Cioffi WG, Graves TA, McMannus WF et al: High frequency percussive ventilation in patients with inhalation injury. Journal of Trauma 1987.
Danzl D, Pozos R, Auerbach P, et al: Multicenter hypothermia survey. Annals of Emergency Medicine, 1987.
Dr. Cornel Prawirawinata. Dasar-dasar Dalam Luka Bakar, PUSDALIN IDI.
Dr. I Nyoman Putu Riasa, SpBP. Memahami Luka Bakar, Penanggung Jawab Medis Unit Luka Bakar RS Sanglah, Denpasar, Bali.
Djohansjah, M. (1991). Pengelolaan Luka Bakar. Airlangga University Press. Surabaya.
Edlich R, Change D, Birk K, et al: Cold Injuries. Comprehensive Therapy, 1989.
Gentilello L, Jurkovich G, Moujaes S: Hypothermia and Injury: Termodynamic principles of prevention and treatment. In: Levine B ( Prospectives in Surgery. St Louis, Quality Medical Publishers, 1991.
Haponik EF, Munster AM (eds): Respiratory Injury : Smoke inhalation and Burns. New York, McGraw- Hill,1990.
Horne.M, Mima. Swearingen, L. Pamela, 2001. Keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa. Jakarta : EGC.
Hospital and prehospital resources for optimal care of patients with burn injury: guidelines for development and operation of burn centers. American Burn Association. J Burn Care Rehabil 1990;11:98-104.
Ian A McGregor M.B., Ch. M., FR.C.S.(Eng), F.R.C.S.(Glasg), Hon. F.A.C.S.; Fundamental Techniques of Plastic Surgery;1980, Churcill Livingstone, Edinburgh London and New York.
James W. Smith, Sherrell J. Aston (Edit): Grabb and Smith Plastic Surgery: Fourth edition ; 1991; Little, Brown and Company; Boston/ Toronto/ London.
Joseph G McCarthy, M.D.; Plastic Surgery (8 vol ); W.B Saunders Company, Philaadelphia, London Toronto, Montreal, Sydney, Tokyo, 1990.
Jurkovich GC: Hipotermia in the trauma patient. Advance Trauma. Chicago, Year Book Medical Publishers, 1989.
Lund C, Browder N. The Estimation of Areas of Burns. Surg Gynecol Obstet 1944;79:352-8.
McMannus WF, Pruitt BA : Thermal Injuries. In: Mattox RH, Moore EE, Feliciano CV. Trauma, 2nd Edition. East Norwalk, Connecticut, Appleton & Lange, 1991.
Mills WJ Jr: Summary of treatment of the cold injury patient: frostbite. Alaska Medicine 1993.
Moenadjat Y. Luka Bakar, Penatalaksanan Awal dan Penatalaksanaannya. Ramlim, Umbas R, Panigoro SS, Kedaruratan Non-Bedah dan Bedah, Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2000 : 62-70.
Mozingo DW, Smith AA, McManus WF, et al: Chemical Burns. Journal of Trauma 1988.
O’ Malley J, Mills W, Kappes B, et al : Frosbite: general and specific treatment, the Alaska method. Alaska Medicine,1993.
Pruitt BA Jr: The Burn patient: II. Later care and complications of thermal injury. Current problems in surgery,1979.
R. Yefta Moenadjat; Luka Bakar, Pengetahuan Klinis Praktisi; Jakarta 2000.
Saffle JR, Crandall A, Warden GD: A long term complication of electrical injury. Journal of trauma,1985.
Sauer EW. Introduction. Naskah Burn Symposium and Workshop. Jakarta : Sub Bagian Bedah Plastik. Bagian Ilmu Bedah, FKUI, 1997 : 18-25.
Setiomiharja S. Luka Bakar. Dalam : Rekosprodjo S, Pusponegoro AD, Kartono D, Hutagalung EU, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Jakarta Bina Rupa Aksara, 1995, 435-42
Sjamsuhidajat, R. de Jong, Wim, 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
No comments:
Post a Comment